SISWA SMA QUEEN AL FALAH JUARA 3 LOMBA CERPEN NASIONAL DI STAI AL ANWAR JAWA TENGAH

Kali ini Siswa SMA Queen Al Falah atas nama M. Abhista Hannan berhasil juara 3 dalam lomba cerpen nasional yang diselenggarakan oleh STAI Al Anwar Sarang Rembang Jawa Tengah.

Berikut adalah karya cerpen yang telah di buat

Perjuangan Anak Penjual Koran

Oleh Muhamad Abhista Hanan Adhiapratama

Di suatu pagi yang indah burung-burung bernyanyi begitu merdu, hembusan angin yang begitu lembut menyentuh kulit. Tepat di sebuah rumah yang terlihat begitu mungil dibandingkan yang lain,tinggallah seorang remaja dan ayahnya remaja tersebut bernama Juna. Ia adalah anak dari seorang penjual koran yang setiap paginya berkeliling menjual koran untuk menghasilkan uang demi menghidupi anaknya, namun sayang di kala Juna lulus SMP, sang ayah tak sanggup membiayainya padahal saat itu Juna lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Pada akhirnya Juna pun hanya dapat melihat teman-temannya bersekolah di jenjang berikutnya yaitu SMA.  Pekerjaannya sebagai penjual koran tidak membuat semangatnya dalam belajar menjadi luntur, dengan menjadi penjual koran Juna merasa beruntung karena ia selalu dapat membaca berita berita seputar Indonesia dan perkembangannya yang akan menambah wawasannya. Berkat hobinya tersebut otak Juna semakin terasah bahkan ia sudah mulai mahir berbahasa Inggris. Juna juga sering mengikuti lomba berupa TTS yang ada di Koran. Terkadang ia juga memenangkan lomba tersebut sampai menerima hadiah berupa uang yang Ia gunakan untuk menambah uang penghasilan Ayahnya.

 Suatu ketika saat Juna kembali ke rumah, Juna  melihat seorang anak yang tengah berlari di tengah jalan, tiba –tiba ada motor yang melaju dengan cepat ke arah anak tersebut. Spontan Juna pun segera menjatuhkan korannya dan berlari ke jalan dan menangkap anak kecil  tersebut sambil melompat ke sebrang jalan. Akhirnya Juna pun menyelamatkan anak kecil tersebut, namun anak kecil tersebut pingsan. Para warga pun berdatangan dan menggerumbuli Juna serta anak kecil tersebut. Beberapa menit kemudian terdengar suaru deru mobil yang berhenti di pinggir jalan. Kemudian keluarlah seorang pria dengan tubuh tegap, berkumis tebal dengan potongan rambut yang begitu rapi. Dengan berbalut jas serta berdasi, Pak Wicaksono yang biasa dipanggil Pak Bayu, yaitu Bapak dari bocah tersebut datang menghampiri arah gerumbulan orang-orang di pinggir jalan. Pak Bayu merasa jantungnya seakan mau putus karena melihat Juna  yang tengah menggendong seorang anak yang tak lain adalah anaknya sendiri yang tadi keluar dari mobil dan pamit untuk membeli es krim di toko seberang jalan, sedangkan saat itu Pak Bayu sedang mengambil mobil di parkiran. Seketika Juna langsung diajak masuk ke mobil untuk menuju ke rumah sakit. Saat di tengah perjalanan Pak Bayu mengobrol dengan  Juna.

“Nak, terima kasih ya sudah menolong Bagas anak Bapak.” Ucap Pak Bayu dari anak yang Juna  selamatkan tadi.

“Iya pak, sama-sama. Oh, adik ini namanya Bagas. Tadi dia lari tanpa melihat kanan kiri dan saat di tengah jalan ada motor yang melaju begitu cepat. Reflek saya langsung berlari dan menangkap Bagas, Pak.” ucap Juna.

“Saya sangat bersyukur untung ada kamu, nak. Andaikan tidak mungkin anak saya sudah terluka.” Tutur Pak Bayu.

            Sesampainya di rumah sakit, Pak Bayu dan Juna langsung memanggil perawat dan segera membawa Bagas masuk ke ruang UGD. Sambil menunggu dokter yang menangani Bagas. Pak Bayu dan Juna berbincang-bincang di kursi depan UGD.

“Oh iya Nak, ngomong-ngomong nama kamu siapa ya?” tanya bapak dari anak tersebut. 

“Nama saya Rahayu Arjuna, bisa dipanggil Juna pak. “ Ucap Juna.

“Hmmm… Rahayu Arjuna.“ Ucap Pak Bayu.

“Hmmm… ada apa ya pak?” tanya Juna.

“Oh, enggak apa apa kok.” Ucap Pak Bayu.

“Ngomong ngomong, kamu kelas berapa Jun?” tanya Pak Bayu.

“Maaf pak, saya sudah tidak sekolah lagi dari SMP.“ Ucap Juna.

“Ooo…maaf ya saya gak tau.“ Ucap Pak Bayu.

“iya, Pak gak papa kok.” Ucap Juna.

“Hmm…kalau boleh tanya memang kenapa kamu gak lanjut sekolah ?” tanya Pak Bayu

“Hmm…itu Pak, Ayah saya gak mampu membiayai sekolah ke jenjang berikutnya dan saat itu juga  ibu saya meninggal.“ Ucap Juna.

“Hmm… saya turut berduka cita ya.“ Ucap Bapak tadi.

“Iya pak.” Ucap Juna.

 “Kalau begitu kenalin ya, nama bapak, Bayu Wicaksono panggil saja pak Bayu,oh ya ngomong ngomong wajah kamu itu kok persis ya sama temen bapak dulu saat di luar negri, namun sayang temen bapak yang itu  meninggal dunia saat kuliah dan akhirnya ia di pulangkan lagi ke Indonesia.”Ucap pak Bayu

“Hmmm…Jun saya boleh tanya sesuatu tentang kamu gak.“ Tanya Pak Bayu.

“Boleh kok, Pak.“ Ucap Juna.

“Kalau boleh tau nama ibu kamu siapa ya.?“ tanya Pak Bayu

“Seingat saya nama ibu saya kalau gak salah Sasmita Rahayu, Pak.” Ucap Juna.

“Alkhamdulillah, ternyata benar apa yang saya kira.“Ucap pak Bayu

“Jadi teman bapak yang tadi bapak ceritain tadi itu ibu saya, Pak.? “tanya juna.

“Iya, ibumu dulu itu teman Bapak saat masih kuliah di luar negri dulu.” Ucap  Pak Bayu.

“ Bapak juga dulu  dititipi pesan dari ibumu  sebelum meninggal. Ibumu berpesan agar Bapak  nanti saat sudah kembali ke Indonesia untuk mencarimu dan menyekolahkan kamu.“ Ucap Pak Bayu.

“Bapak beneran, saya tidak bermimpikan, Pak.“ Ucap Juna yang terkejut.

“Iya bener, ibumu dulu itu adalah teman bapak yang selalu menyemangati bapak saat bapak sudah mau nyerah dan hampir balik ke Indonesia. Ibumu juga  selalu bilang ke bapak untuk jangan menyerah dan pada  akhirnya Bapak bisa jadi seperti ini. Terus kalau kamu masih bingung mau masuk sekolah mana, masuk saja ke sekolah milik Bapak, nanti saya yang menanggung semua biayanya.”  Ucap Pak Bayu.

“Oh ya, kata ibumu dulu kamu itu anak yang pinter banget ya.” Ucap Pak Bayu lagi.

“Ah bapak ini, bisa aja.”Ucap Juna sambil tersipu malu.

 “Hahaha..oh ya, besok kamu datang ke sekolah saya bersama Ayah kamu ya. Namanya sekolahnya SMA Semesta.” Ucap pak Bayu

“Siap pak“ ucap juna

“Keluarga anak Bagas.” Ucap seorang perawat yang keluar dari ruang UGD.

“Iya Sus, saya ayah dari Bagas.”

“Silahkan masuk, Pak. Bagas sudah siuman dari pingsannya jadi bapak bisa menemuinya. Setelah ini bisa dipindahkan ke ruang rawat ya, Pak.” Tutur perawat.

“Baik, Sus. Terima kasih.

Pak Bayu menemui Bagas dan memastikan kondisi bagas baik-baik saja. Sampai akhirnya istri Pak Bayu datang dan menggantikan Pak Bayu untuk menemani Bagas. Kemudian, Pak Bayu berpamitan untuk mengantarkan Juna pulang ke rumah. Akhirnya setelah berbincang-bincang di ruang perawatan Juna pun diantar ke rumah. Saat  Pak Bayu sampai di rumah Juna, Pak Bayu  pun berkenalan dengan ayahnya Juna, Juna pun menjelaskan bahwa Pak Bayu ini teman ibunya. Kemudian besuk Juna disuruh datang ke sekolah dengan membawa persyaratan masuk  sekolah. Begitu bahagianya Ayah Juna ketika mendengar bahwa anaknya sudah bisa melanjutkan sekolah lagi.

“Kalau begitu saya pulang dulu ya pak.” Ucap Pak Bayu.

“Iya, Pak terima kasih banget Pak.” Ucap ayah Juna.

“Iya, Pak sama sama.“ Ucap Pak Bayu.

Keesokan harinya Juna dan Ayahnya datang ke sekolah dan bertemu dengan Pak Bayu yang kebetulan sedang berada di depan pagar. Setelah dipersilahkan masuk Juna dan ayahnya duduk di kursi.

“Jadi begini Pak, hari Senin depan Nak Juna akan masuk sekolah. Kalau boleh tau umurnya Juna berapa?” tanya pak Bayu.

“Kalau gak salah umur 16 tahun, Pak.” Ucap Juna.

“Ooo berarti nanti kamu masuknya kelas 1 SMA ya?” ucap pak Bayu.

“Terus nanti seragamnya bisa diambil di ruang TU di samping ruang ini ya Juna.” Ucap Pak Bayu.

 “Baik, Pak. “ Ucap Juna sambil tersenyum.

Hari Senin yang cerah diiringi nyanyian burung yang merdu seolah olah menyambut Juna yang kembali bersekolah. Hari yang ditunggu-tunggu Juna akhirnya tiba. Juna pun bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah menggunakan seragam yang sudah disetrika rapi dan akhirnya Juna pun berangkat ke sekolah dengan diantar ayahnya ke sekolah, saat sudah sampai di depan gerbang Juna pun berpamitan pada ayahnya

“Juna pamit dulu ya, Yah.”Ucap Juna

“Iya Jun, kamu jaga diri baik baik ya… ayah sudah bangga banget lihat kamu bisa bersekolah lagi.”Ucap sang ayah

“Ya udah, Ayah tinggal dulu ya.”Ucap sang ayah

“Iya yah..”Ucap Juna

Akhirnya sang Ayah kembali setelah mengantarkan Juna bersekolah. Di hari pertama sekolah Juna terlihat sangat bahagia bisa kembali bersekolah saat perkenalan di kelas pun siswa di kelas menyambut Juna dengan ramah. Juna semakin merasa nyaman, namun saat di siang hari Juna di panggil oleh seorang guru untuk ke ruang guru, disana Juna diberi tahu oleh guru tersebut bahwa ayahnya mengalami kecelakaan dan telah di bawa ke rumah sakit. Juna pun terkejut dan meminta izin untuk pulang. Setelah mendapatkan izin pulang, Juna pun langsung berlari ke arah rumah sakit, dan di tengah jalan Juna berpapasan dengan Pak Bayu.

“ Kamu mau kemana Jun?” tanya Pak Bayu

“Itu, Pak mau ke rumah sakit  melihat kondisi Ayah.” Ucap Juna.

“Memangnya Ayah kamu kenapa?” Ucap Pak Bayu.

“Ayah kecelakaan Pak.“ Ucap Juna.

“Ya sudah ayo cepat naik mobil Bapak, saya antar ke rumah sakit.” Ucap Pak Bayu.

Setelah sampai di rumah sakit Juna pun bertanya pada suster tentang ayahnya. Ternyata ayah Juna berada di ruang ICU. Juna pun terkejut dan berlari ke ruang ICU. Setelah sampai di sana ternyata sang ayah telah terbaring lemah tak berdaya. Pak Bayu pun menyuruh Juna untuk masuk sementara Pak Bayu menunggu di luar. Juna pun meminta izin untuk masuk dan diperbolehkan oleh perawatnya. Saat di dalam, Juna pun melihat bahwa sang ayah telah sadar dan memanggil Juna untuk mendekat saat itu ayahnya berkata sesuatu.

“Jun, sekarang kamu sudah bisa melanjutkan sekolah lagi. Semoga cita-cita yang kamu impikan bisa tercapai. Ayah cuma bisa memberi bu…ku ini, mung…kin… buku ini bisa membantumu nak.” Ucap sang ayah.

“Ayah ini ngomong apa sih, Ayah gak boleh ngomong gitu. Ayah harus kuat.” Ucap Juna sambil menangis.

Jun…ayah su.. dah gak kuat la..gi… maafin… a..yah ya nak..maaf ayah..gak bi..sa menemani kamu sampai kamu wi..su..da.” Ucap sang ayah sambil tersenggal-senggal.

“Ayah pa..mit..dulu ya nak.” Ucap sang Ayah terakhir kalinya.

“Ayah gak boleh gitu ayah…” Ucap Juna sambil berteriak.

Akhirnya sang ayah meninggal dan setelah itu para perawat pun masuk yang diikuti oleh Pak Bayu. Pak Bayu pun masuk untuk menenangkan Juna, kemudian mereka menunggu jenazah Ayah Juna untuk diurus dan dibawa pulang untuk dimakamkan. Saat pemakaman berlangsung, Juna sangat bersedih karena orang tua tunggalnya juga sudah pergi meninggalkan dirinya. Pak Bayu yang saat itu berada di sampingnya terus menguatkan Juna agar bisa tegar dan bangkit dari kesedihan yang dialaminya.

Tujuh hari setelah kepergian sang ayah, Juna mulai masuk sekolah lagi. Saat di sekolah, Pak Bayu menyampaikan suatu hal kepada Juna.

“Jun, saya ingin menyampaikan sesuatu kepadamu. Saya ingin mengangkat kamu menjadi anak angkat saya. Daripada kamu hidup sebatangkara di rumah, maka tinggallah bersama saya.” Ucap Pak Bayu.

“Terima kasih, Pak. Bapak selalu membantu saya saat saya sedang mengalami kesusahan.” Ucap Juna sambil meneteskan air matanya.

Akhirnya Juna menjadi anak angkat Pak Bayu. Saat sudah berada di rumah Pak Bayu, Juna mencoba membuka buku pemberian dari ayahnya. Betapa terharunya Juna saat membaca isi buku yang isinya berupa kisah ayahnya yang selama ini memperjuangkan kebahagiaan untuk keluarganya tapi belum terwujud. Dalam buku itu dituliskan bahwa ayah Juna berharap kelak Juna jangan sampai mengalami kemiskinan seperti ayahnya.

Pada akhirnya terpetik sebuah ide di kepala Juna agar cerita ayahnya bisa selalu terkenang, Juna pun membuat sebuah cerita yang mengisahkan perjuangan dan pengorbanan sang ayah untuk anaknya agar sang anak bisa sekolah lagi di cerita itu pun di jelaskan tentang jerih payah yang ayahnya hadapi dengan tabah dan sabar. Setelah menyelesaikan karyanya tersebut Juna pun mencoba mengirim kisahnya ke suatu redaksi dan setelah sekian lama menunggu akhirnya Juna di hubungi redaksi bahwa buku berisi kisahnya di terima dan akan di terbitkan menjadi sebuah  novel. Saat novel itu terbit ternyata novel tersebut masuk sebagai novel terlaris di penerbit Jaya Abadi. Begitu bahagianya Juna karena bisa menjadi seorang penulis novel.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button