SISWA SMA-Q TUNJUKKAN PRESTASI DI HICOM UNESA 2025

Siswa SMA Queen Al Falah kembali menunjukkan semangat berprestasi dalam ajang History Competition yang diselenggarakan oleh HICOM UNESA pada 22 November 2025. Dalam kompetisi ini, para siswa mengikuti berbagai kategori lomba yang bertujuan mengembangkan wawasan sejarah, kemampuan riset, serta berpikir kritis. Kegiatan ini menjadi wadah bagi siswa untuk menyalurkan minat dan bakat di bidang sejarah sekaligus memperluas pengalaman akademik di tingkat yang lebih luas.

Prestasi membanggakan diraih oleh dua tim SMA Queen Al Falah yang berhasil menjadi Semifinalis Lomba LKTI Sejarah. Tim pertama terdiri dari Fatih Ahmad M. M., Hafidz Baihaqi, dan Fandi Abdul A., sedangkan tim kedua terdiri dari Faza Aufazzahro, Zazkia Intan, dan Septi Ayu R. Melalui karya tulis ilmiah yang mereka susun, kedua tim mampu menunjukkan kemampuan analisis serta pemahaman sejarah yang baik sehingga berhasil melaju hingga babak semifinal dalam kompetisi tersebut.

Selain itu, beberapa siswa juga turut berpartisipasi dalam Olimpiade Sejarah yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan History Competition UNESA. Siswa yang mengikuti kegiatan ini adalah Azizatun Nurul I. A., Bilqis Elysia D., Istifaiyah Fauziyah, dan Zulfia Wafi Rusni. Keikutsertaan ini menjadi pengalaman berharga bagi para siswa untuk memperdalam pengetahuan sejarah, melatih kemampuan berpikir kritis, serta menumbuhkan semangat untuk terus belajar dan menorehkan prestasi bersama SMA Queen Al Falah.

Peran Peristiwa Reformasi 1998 Dalam Menanamkan dan
Membentuk Nasionalisme Siswa Sebagai Generasi Pembaharu

Muhammad Hafidzh Baihaqi, Fatih Ahmad Muzakky, Fandi Abdul Aziz
SMA Queen Al Falah Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur
Email: di********@***il.com


Abstrak
Nasionalisme dalam bahasa ringkas adalah sikap cinta dan bangga terhadap tanah
air. Nasionalisme juga bisa diartikan dengan rasa peduli yang tinggi terhadap
perkembangan bangsa. Nasionalisme sudah berkembang sejak masa kerajaan
hingga masa kemerdekaan. Soekarno menyatakan nasionalisme sebagai jiwa
pemersatu bangsa. Nasionalisme sebagai jiwa bangsa seharusnya menjadikan
generasi pembaharu lebih tanggap akan kondisi dan situasi bangsa saat ini. Karena
dengan sikap nasionalisme generasi pembaharu mencoba mempertahankan
identitas dari gempuran pandangan yang tidak sesuai dengan pemikiran bangsa.
Atas rasa nasionalisme yang tinggi ini generasi pembaharu bisa dengan lantang
menyuarakan rasa cinta dan semangat persatuan serta menunjukan rasa kepedulian
tinggi. Namun dalam praktiknya nasionalisme disalahgunakan oleh pihak tertentu
demi kepentingan pribadi. Nasionalisme hanya digunakan sebagai “simbol” untuk
melegitimasi kekuasan dan memperkuat nepotisme. Salah satu contoh
penyalahgunaan nasionalisme dapat dilihat dari peristiwa Reformasi 1998.
Dimana presiden Soeharto memanfaatkan nasionalisme untuk memperkuat
pengaruh nya dalam tatanan pemerintahan. Akibatnya, makna nasionalisme yang
digariskan oleh pendiri bangsa keluar dari yang seharusnya. Siasat penyimpangan
ini menimbulkan kemarahan mahasiswa sebagai generasi pembaharu pada tahun
1998. Penelitian ini bertujuan melihat nasionalisme dari apirasi aksi mahasiswa
untuk meluruskan kembali makna nasionalisme yang sudah melenceng jauh dari
cita-cita bangsa. Karena itulah, pencarian alasan tentang bagaimana hubungan
peristiwa reformasi 1998 bisa menanamkan kembali nasionalisme dalam arti
sebenarnya di hati generasi pembaharu. Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif. Peneliti mengambil teknik pengumpulan data berupa studi kepustakaan
(library research) supaya mendapatkan sumber-sumber yang relevan dengan topic
penelitian selanjutnya menghasilkan kesimpulan dari berbagai sumber yang
didapat. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa peristiwa reformasi 1998 dapat
dijadikan refleksi sikap nasionalisme yang diharapkan dari pendiri bangsa.
Meluruskan nasionalisme dalam arti yang hakiki. Dalam arti menanamkan
kefahaman yang benar bagi generasi pembaharu.
Kata kunci: generasi pembaharu, nasionalisme, reformasi 1998

Internaliasasi Pemikiran Tan Malaka Melalui Pembelajaran
Sejarah untuk Mendorong Kemampuan Berfikir Kritis Siswa
Sebagai Generasi Pembaharu


Zaskia Intan Elvaretta R.W., Faza Aufazzahro, Septi Ayu Ramadhani
SMA Queen Al Falah Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur
Email: di********@***il.com
Abstrak
Generasi pembaharu merupakan generasi muda yang mampu memberikan
perubahan positif dalam masyarakat melalui ide ide kreatif dan inovatif dalam
rangka menyongsong Indonesia emas 2045. Dalam menciptakan ide-ide kreatif
dan inovatif generasi muda perlu di bekali dengan kemampuan berfikir kritis yang
berorientasi pada pemecahan masalah. Konsep berfikir dapat kita teladani dari
tokoh-tokoh sejarah seperti Tan malaka. Tan malaka selalu mengkritisi taktik
perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan kolonialisme, selain itu Tan malaka
juga mengkritisi pola fikir masyarakat Indonesia melalui karya-karyanya seperti
“Madilog‟‟ dan “Gerpolek‟‟. Penulisan memilih judul penelitian ini karena
melihat kurangnya kemampuan berfikir kritis siswa sekolah menengah atas.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pemikiran Tan malaka yang masih
Relevan dengan kondisi zaman sekarang, mencari tahu cara menyampaikan
pemikiran Tan malaka agar mudah di pahami oleh siswa sebagai generasi
pembaharu, dan mencari tahu cara menginternalisasi pemikiran Tan malaka dalam
pembelajaran sejarah untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa
sebagai generasi pembaharu. Penilitian ini menggunakan metode penelitian
kualitatif dan teknik pengumpulan data yang digunakan untuk menyusun laporan
karya ilmiah ini adalah studi kepustakaan (library research), yaitu mencari data
yang berkaitan dengan pembahasan. Sumber primer dalam penelitian ini adalah
buku karya Tan Malaka yang berjudul “Madilog‟‟ dan „„Gerpolek‟‟ serta sumber
sekunder lain yang berkaitan dengan pokok bahasan penelitian ini. Hasil dari
penelitian ini menunjukan bahwa pemikiran Tan Malaka mengenai dialektika dan
logika masih sangat relevan jika diterapkan pada zaman sekarang. Dikutip melalui
Madilog, Tan Malaka mengajarkan untuk selalu berfikir kritis dan rasional ketika
menghadapi permasalahan dalam bentuk apapun. Madilog dapat disampaikan
pada siswa dengan cara memberikan analog-analogi yang berkaitan dengan
kehidupan sehari-hari agar lebih mudah dipahami dan menarik minat
keberlanjutan. Madilog dapat di internalisasikan dalam pembelajaran sejarah
dengan mempelajari kisah hidup Tan Malaka serta menerapkan metode
pembelajaran berbasis masalah, proyek maupun debat. Metode ini sesuai karena
siswa dapat memahami konsep dialektika dan logika melalui pencarian sumber
sejarah, perbandingan sumber dan pembuatan kesimpulan berdasarkan sumber
yang telah di temukan. Jika cara ini di terapkan secara berulang dalam
pembelajaran sejarah, maka kemampuan berfikir kritis dan logis akan terus
berkembang.
Kata kunci: kritis, dialektika, dan logika

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button