
KTI LAWATAN SEJARAH 2022: Desanya Santri Ploso
Muhammad Alfan Aula
Pada era milenial ini, semua kehidupan masyarakat Desa Ploso semakin berubah, bahkan kehidupan keagaaman warga Desa Ploso juga ikut berubah. Perubahan itu dilihat dari masyarakat di Desa Ploso kini mayoritas adalah santri. Munculnya pondok pesantren Al Falah yang menjadi pelopor berubahnya kehidupan keagamaan warga Desa Ploso. Desa Ploso yang terkenal dengan sebutan desa Religius karena adanya pondok pesantren Al-Falah yang di dirikan oleh K.H Ustman Djazuli dari dahulu sampai sekarang hingga terkenal sampai Nasional. Berawal dari keinginan mengamalkan ilmu pengetahuan agama yang didapatkan dari kota Makkah Al-Mukkaromah, KH. Ahmad Djazuli merintis berdirinya sebuah pondok pesantren. Bersama dengan Muhammad Qomar, salah seorang santrinya. Menurut Bapak Mujibburrohman selaku pengurus pondok cabang Al Falah mengatakan bahwa,”KH. Ahmad Djazuli Usman merintis berdirinya pondok pesantren Al Falah dengan sangat sederhana, yaitu dengan memulai sebuah pengajian yang awalnya di Desa Karangkates. Pengajian tersebut dimuali pada pertengahan tahun 1924 dengan menggunakan sistem sorogan. Setengah tahun kemudian, tepatnya 1 Januari 1925, KH. Ahmad Dzajuli Usman mendirikan sebuah madrasah dan pondok pesantren.
Beliau memanfaatkan serambi masjid untuk kegiatan belajar mengajar para santri.” Banyaknya santri yang menetap sudah tak tertampung lagi di Masjid sehingga timbullah permasalahan lagi yaitu pengadaan asrama (pondok) tempat bermukim bagi para santri. Maka pada tahun berikutnya (1928) dibangunlah asrama pertama yang diberi nama komplek D (Darussalam) yang disusul pada tahun berikutnya dengan pembangunan komplek C (Cahaya) yang semula diperuntukkan sebagai tempat mujahadah bagi para santri. Pada tahun 1939 dibangunlah komplek A (Andayani), sebuah asrama berlantai dua dilengkapi sebuah musholla di depannya. Dengan tersedianya asrama D, C dan kini A beserta musholla yang merupakan hak milik pondok pesantren diharapkan santri dapat tentram mengikuti pengajian dan kegiatan‑kegiatan belajar lainnya.
Program pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren Al Falah terdiri dari Madrasah Ibtidaiyah (3 tahun), Madrasah Tsnawiyah (4 tahun) dan Majelis Musyawarah Riyadlotut Tholabah (5 tahun). Pada tingkat Ibtidaiyah materi yang ditekankan adalah masalah akidah dan akhlak, sedangkan untuk tingkat Tsanawiyah ditekankan pada materi ilmu nahwu/ sharaf dan ditambah ilmu fiqih, faroidl serta balaghah. Adapun Majelis Musyawarah Riyadlotut Tholabah merupakan kegiatan kajian kiab fiqih, yakni Fathul Qorib, selama satu tahun, kitab Fathul Mu’in selama 1 tahundan fathul Wabah selama 3 tahun. “Berkembangnya santri pondok pesantren Al Falah yang memiliki beberapa cabang meliputi PP.Queen Al-Falah, PP Al-Badrul Falah, PP.Az-zahir Dan lain sebagainya. Santri tersebut mengkaji sebuah keilmuan beragama meliputi Tasawuf,Nahwu.fikih dan lain sebagainya dan di samping belajar ilmu agama santri juga di didik untuk memiliki kepribadian yang mandiri”, tutur Bapak Mujibburrohman.
[integrate_google_drive id=”6″]






