KTI 2023: Peran Kiai Imam Nawawi Dalam Syiar Islam di Desa Ngadi Tahun 1840-1930

Azkal Anam Musthofa

Kiai Imam Nawawi adalah salah satu keturunan dari Ngayogyakarta. Konon cerita mendapat sebutan Den Sultan Agung yang melakukan syiar agama Islam. Di era Jawa disebut “Panetep Panata Gama” yang mempunyai arti pemegang teguh agama Islam. Sehingga melakukan syiar secara turun –temurun sampai pada masa Mataram kuno.

Mustofa (wawancara, 8 Agustus 2023) mengatakan bahwa tanggal kelahiran dari Kiai Imam Mawawi tidak diketahui oleh para keturunannya, namun untuk tahun meninggalnya Kiai Imam Nawawi pada tahun 1943 tanpa diketahui tanggal dan bulannya. Bahkan istri dari Kiai Imam Nawawi juga belum diketahui oleh narasumber. Namun, dari Bapak Mustofa menjelaskan bahwa Kiai Imam Nawawi mempunyai sembilan putra. Silsilah dari Kiai Imam Nawawi dijelaskan berikut ini.

Berdasarkan penuturan dari Mustofa (wawancara, 8 Agustus 2023) Kiai Imam Nawawi yang bukan berasal dari wilayah Jawa Timur awalnya melakukan pelarian. Pada masa Mataram kuno pecah menjadi dua yaitu Ngayogjakarta Ngabdi Dalem dan Surokarta Hadiningrat. Errisya (2022) mengatakan bahwa faktor lain yang menjadi penyebab runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno adalah karena adanya perebutan kekuasaan di antara para keturunannya. Dari hal tersebut terjadilah miskomunikasi antarsaudara sehingga mengakibatkan pecahnya Mataram menjadi Surokarta Hadiningrat dan Ngayogjakarta Ngabdi Dalem. Konon Crita saat pecahnya Mataram Kuno pada tahun 1820an Kiai Imam Nawawi lari sampai ke arah Banyuwangi. Pelarian pada saat itu karena ingin mengelabui Belanda. Sampai akhirnya Kiai Imam Nawawi berhenti di Banyuwangi.

Karena pada masa penjajahan Belanda masih genting, untuk menghilangkan jejak Kiai Imam Nawawi melakukan apus krama artinya berpura-pura meninggal. Berpura-pura meninggal ini dalam artian ada makam tetapi tidak ada jenazahnya. Salah satu kodam dari Kiai Imam Nawawi merasa tidak rela ketika ditinggal oleh Kiai Imam Nawawi sampai rela menunggu di makam tersebut. Saat itu ada kalam (istilah magis) atau disebut dhawuh “Komandanmu iku sik durung ninggal, jajal golekana nek daerah Kediri Selatan.” Inilah yang menjadi perjalanan syiar Islam Kiai Imam Nawawi ke Kediri, yaitu bertepatan di Dsn. Tambak, Ds. Ngadi. Setelah mendapatkan kalam, Kodam Kiai Imam Nawawi melakukan pencarian ke arah selatan. Ternyata setelah dicari kemudian ditemukan di daerah Kediri Selatan dan sudah menjadi Kiai. Kiai adalah orang yang memiliki ilmu agama (Islam) plus amal dan akhlak yang sesuai dengan ilmunya (Lubis, 2007:169).

Diawali dengan kesengsaraan dan kemiskinan yang dialami oleh penduduk di Ds. Ngadi sekitar tahun 1800-an akibat kecurangan kebijakan pemerintah kolonial Belanda, tekad penduduk Ngadi untuk menentang dan melawan kebijakan Belanda semakin bulat. Kiai Imam Nawawi berhasil ditemukan di Dsn.Tambak pada tahun 1840-an. Pada saat itu Dsn. Tambak, Ds. Ngadi masih menjadi hutan belantara. Pada zaman dulu, Ngadi masih masuk dalam wilayah Kelurahan Ngetrep. Pada masa itu Ngadi masih buta dalam ilmu agama menurut penuturan dari narasumber Mustofa (wawancara, 8 Agustus 2023).

Kiai Imam Nawawi yang sebagai tokoh agama pada masa itu memberikan dorongan kuat dan menyelamatkan keterpurukan masyarakat dari penjajahan. Tuturan Mustofa (wawancara, 8 Agustus 2023) mengatakan bahwa saat itu Kiai Imam Nawawi juga mempunyai ilmu panglimunan dalam mengelabui Belanda. Ajian ini merupakan ajian yang berfungsi untuk mengelabui penglihatan lawan, agar tidak dapat melihat diri kita secara jelas (Dalam artikel online, 2020). Kegunaan ilmu ini bukanlah agar diri kita tidak terlihat, melainkan agar kita luput dari pandangan orang yang berniat jahat. Jadi ketika Belanda ingin menangkap Kiai Imam Nawawi sebagai pelopor penentang Belanda maka tidak akan bisa ditemukan.

Pada masa itu masyarakat Ngadi masih majemuk. Konon katanya warga Ngadi masih liar dalam arti belum mengenal agama secara mendalam. Akhirnya dengan izin Sang Pencipta, Kiai Imam Nawawi melakukan pendekatan dalm syiar Islam kepada masyarakat Ngadi. Jadi pada zaman dulu, Ngadi ini masih dusun belum menjadi sebuah desa sampai akhirnya setelah kedatangan Kiai Imam Nawawi, pola pikir tentang agama Islam menjadi terarah. Kiai Imam Nawawi mendirikan masjid sebagai tempat syiar Islam yang sekarang diberi nama masjid Al-Muttaqin di Dsn. Tambak. Dalam proses syiar Islam Kiai Imam Nawawi menggunakan media Jaranan dan Selawat Jedor.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button