
KARYA CERPEN SISWA SMA QUEEN AL FALAH DALAM EVENT STAI AL ANWAR JAWA TENGAH 2024
Berikut adalah karya karya cerpen siswa SMA Queen Al Falah dalam mengikuti lomba cerpen nasional STAI Al Anwar Sarang Rembang Jawa Tengah
BUKU SAHABATKU
Oleh Kanza Chaerani Hafid
Aku seorang anak perempuan berusia empat belas tahun bernama Mazara. Ceritaku dimulai saat aku berusia sembilan tahun. Saat itu, aku berada di ruang kerja ayahku mencari mainan yang tertinggal disana. Kedua bola mataku mengarahkan pandangan menuju tiga rak buku yang menjulang tinggi dengan tatanan buku yang sangat rapi dan elok dipandang. Ketika itu, ku amati satu persatu buku yang berjejer disana. Ada satu buku yang menarik perhatianku, buku dongeng anak bergenre petualangan. Bergegas ku ambil buku itu lalu membawanya pergi dari ruang kerja ayahku. Buku itu mengalihkan perhatianku, karena awalnya tujuanku ingin mencari mainan.
Menuju kamar tempat ternyamanku, aku berbaring diatas tempat tidur dengan membuka buku yang telah menyita perhatianku. Aku mengamati kata demi kata yang tertulis rapi, satu bab dua bab terlewati. Ku rasa buku ini sangat menarik, bahkan memang benar benar menarik. Aku sangat menyukai buku ini. Tak lama aku mendengar ketukan pintu. Aku menoleh dan ternyata ayah sudah mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.
“Apa kau sedang membaca buku, Nak?” Ayah bertanya seraya berjalan kearahku. Aku mengubah posisiku menjadi duduk. “Iya, Yah” jawabku.
“Darimana kau mendapatkan buku itu?” Ayah bertanya sembari duduk di pinggir kasurku. “Aku menemukannya di ruang kerja Ayah, di rak buku nomor dua baris paling bawah.” jawabku tersenyum pada ayah.
“Apa kau menyukainya?” Ayah mengusap rambutku pelan. Aku mengangguk cepat lalu membalas senyuman Ayah. “Bukankah kau tidak suka membaca, sejak kapan menyukainya?” kini ekspresi Ayah berubah menjadi kebingungan.
Aku menggelengkan kepala cepat “Tidak, itu mungkin aku yang dulu Ayah.” Ayah mengerutkan dahinya. “Benarkah itu, apa Ayah tidak salah dengar putri Ayah ini suka membaca buku?” aku menganggukkan kepalaku sekali lagi. Berusaha meyakinkan ayah, “Kurasa tidak buruk menyukai buku.” Ayah mengangguk lalu meninggalkanku bersama buku yang ku genggam.
Keesokan harinya aku menyelesaikan buku itu. Sebanyak 23 bab aku selesaikan dengan waktu semalam. Aku sangat menyukai buku ini, rasanya aku tidak ingin mengembalikan buku ini di ruang kerja Ayah. Aku akan menyimpannya sendiri di kamar ku. Mungkin aku akan meminta pada Ibu untuk membelikan rak buku dan beberapa buku disana. Yeah.. itu ide yang sangat bagus.
Di suatu pagi yang cerah, aku duduk di meja makan seraya membawa buku yang baru saja ku ambil di ruang kerja Ayah. Aku membaca dengan sangat fokus hingga aku mengabaikan makanan di depanku yang sudah hampir dingin itu. Kurasa Ibu memperhatikanku.
“Heii.. sejak kapan kau membawa buku saat makan?” Ibu menghampiriku. Aku tidak menggubris pertanyaaan Ibu, karena masih fokus dengan buku. Tiba tiba Ibu menepuk pundakku
“Apa kau tidak mendengar Ibu?”, aku mendongak menatap Ibu dengan senyum terukir disana.
“Sejak kapan kau membawa buku saat makan?” Ibu mengulangi pertanyaannya.
“Mungkin sejak saat ini?” aku menjawab asal pertanyaan Ibu.
Aku kembali membaca buku yang ku bawa. Tanpa sadar Ibu menarik kursi yang berada tepat disebelahku. Ibu duduk disana, menatapku lekat lekat. Aku fokus menbaca hingga aku tidak sadar jika ada tangan yang mengambil paksa bukuku yaitu Ibu. Aku menatap bingung kearahnya,
“Sejak kapan anak ku mau membaca buku?” Ibu memperlihatkan senyum lebarnya padaku.
“Sejak kemarin Bu hehe…” Ibu hanya mengangguk.
“Emmm… Ibu bolehkah aku meminta sesuatu?” aku bertanya dengan ragu ragu.
“Tentu saja asalkan bermanfaat. Katakan saja, apa yang kau mau?” Ibu menatapku dengan serius.
“Aku ingin mempunyai satu rak buku di kamar ku dan juga beberapa buku.” lagi lagi aku ragu mengatakannya.
“Apakah Ibu akan marah padaku?” Ibu terlihat sedikit terkejut mendengarnya.
“Apa kau sedang bercanda nak?” tanya Ibu.
“Tidak Bu.. apa aku terlihat sedang bercanda? Aku ingin membaca lebih banyak buku.”
Aku melihat ekspresi terkejut dari Ibu. “Baiklah Ibu akan membelikan mu beberapa buku sekaligus rak buku nya.” Ibu berkata dengan mengusap rambutku. Aku sangat senang mendengarnya, aku berpikir Ibu tidak akan menyetujui tapi ternyata aku salah.
Hari ini adalah hari ulang tahunnku. Kakek dan nenek ku pergi berkunjung kerumahku. Aku sangat senang, rumahku menjadi terlihat ramai. Aku pergi ke ruang tamu, mendapati kakek sedang membaca sebuah buku tebal dengan kertas yang sudah usang. Aku berfikir untuk apa kakek membaca buku lama itu. Aku tidak ingin berlama dengan pikiranku, lalu aku menghampiri kakek.
“Untuk apa kakek membaca buku usang itu?”. Kakek menutup bukunya lalu menaruhnya diatas meja tepat di depannya.
“Mendekatlah Nak.. berapa usia mu sekarang?” Kakek bertanya padaku. Aku melangkah maju, “10 tahun Kek.. memangnya ada apa?”. Kakek mengangkuk paham.
“Kau masih cukup muda untuk itu. Apa ayah mu tidak mengajarkan literasi pada mu?” Aku menggeleng pelan, jujur saja aku tidak tau apa itu literasi.
“Hmm.. Kek, literasi itu apa?”aku bertanya dengan polosnya.
“Literasi itu serangkaian kegiatan untuk memperoleh suatu informasi. Kegiatan literasi tidak hanya sekedar membaca saja dan banyak lo manfaatnya”.
“Apa manfaat literasi Kek?” Kakek semakin serius menatapku.
“Ada banyak manfaat nya. contohnya adalah menambah ilmu pengetahuan dan juga mendapat berbagai wawasan yang belum pernah kamu ketahui. Kamu bisa meningkatkan fokus dan kemampuan konsentrasimu melalui rutin literasi nak. Selain itu, kamu juga dapat meningkatkan kemampuan verbalmu dan masih banyak manfaat lainnya yang dapat kamu peroleh dari kegiatan literasi”. Aku menatap kakek dengan mata berbinar. Semenjak itu aku semakin yakin untuk menambahkan perpustakaan kecil di kamarku.
Hari yang aku nantikan telah tiba. Aku, Ayah, dan Ibuku pergi bersama menuju toko buku untuk mencari beberapa buku yang aku inginkan. Aku sangat senang sebentar lagi aku akan memiliki perpustakaan kecil di kamarku. Aku mengelilingi toko buku dengan antusias. Ku lirik setiap rak dengan deretan buku yang ditata sangat rapi disana. Aku berjalan menuju rak buku yang berada di ujung sebelah kanan. Kumpulan rak yang berisi buku dongeng anak anak dengan cerita petualangan yang menarik.
Aku menarik satu persatu buku disana, dan berhasil mengambil 15 buku sekaligus. Kemudian aku menghampiri Ibu dan Ayah yang sedang di kursi sebelah kanan kasir. Aku menghampiri mereka dengan senyuman yang merekah.
“Ibu, Ayah, lihat aku sudah mendapatkan 15 buku hehe..” aku menunjukan kereta dorong yang berisi setumpuk buku pada mereka. “Banyak sekali nak, apa kau yakin menyukai semua buku yang kau ambil?” Ibu bertanya padaku.
Aku mengangguk dengan cepat “Yaa Bu.. aku yakin menyukai semua buku ini. Ayo cepat ke kasir Ibu, Ayah. Aku tidak sabar ingin membaca semua buku ini.” Aku menarik tangan Ayah dan Ibu. Menyuruh mereka untuk segera membayar buku-buku yang sudah ku ambil.
Kini aku berada di kamar kecilku, Ayah sudah membelikan ku rak buku berwarna putih. Aku menata semua buku di rak dengan penuh semangat. Aku sangat senang, namun rak itu belum terisi penuh. Mungkin nanti aku akan membeli buku setiap tahunnya. Karena rasanya tidak mungkin jika harus membeli buku setiap bulan atau bahkan setiap minggu.
Hari sudah petang, bulan pun bersinar terang seakan memberikan tanda bahwa malam pun datang. Aku mengambil satu buku yang masih tersegel plastik di rak buku. Aku membawanya menuju meja belajarku, lalu ku buka segel plastik itu dengan hati-hati. Aku sudah tidak sabar membacanya, kemudian aku membuka buku itu. Kata demi kata ku pahami dengan seksama. Tak terasa aku sudah selesai membaca satu bab. Baru membaca satu bab saja menakjubkan sekali, aku merasa hidup di dalam cerita ini. Aku sangat menyukainya.
Hari demi hari ku jalani dengan rutin membaca buku. Karena kebiasaan membaca ku ini, ternyata setiap hari minggu Ayah mengajak ku untuk membeli buku. Aku sangat senang, kini rak buku ku sudah hampir penuh layaknya buku yan tersusun rapi di sebuah perpustakaan. Setiap harinya setelah pulang sekolah, waktuku hanya aku gunakan untuk membaca buku bahkan aku berpikir untuk berkarya menulis buku sendiri.
Pada suatu ketika aku menangis karena salah satu buku ku ada yang sobek. Aku tidak sengaja membukanya dengan kasar karena terlalu bersemangat untuk segera membacanya. Karena mendengar suaraku menangis, Ibuku membuka pintu kamar ku dengan tergesa gesa. Ibu mendekat padaku “Apa yang terjadi? Apa kau terluka? Ada apa nak, katakan pada Ibu!”.
Aku menatap Ibu dengan mata yang memerah “Ibu lihat Bu.. buku ku sobek parah.” aku menunjuk buku yang berada di depanku.
“Astaga mengapa kamu bisa sampai menangis hanya perihal buku mu sobek nak?” Ibu menggelengkan kepalanya.
“Aku sangat menyayangi buku itu, Bu. Bagiku buku itu sudah seperti sahabat terbaik ku saat ini. Bagaimana bisa aku tidak menangis.” Ibu menertawakan ku.
“Ada ada saja kau ini. Mengapa bisa kau begitu menyayangi buku?”. Aku menatap buku ku yang sobek, lalu kembali menatap Ibuku.
“Aku berfikir buku adalah segalanya, buku memiliki ilmu yang sangat banyak dan aku harus menghargai ilmu Bu. Aku sangat menyayangi buku bahkan aku sudah mengangggap nya seperti sahabatku sendiri. Buku dapat memberikan apa yang aku cari Bu. Bahkan saat aku bercerita pada buku, buku tidak akan bercerita pada siapapun jadi aku sangat menyayanginya. Lagi pula tidak ada alasan untuk aku membenci buku bukan? Justu sangat disayangkan jika aku membenci buku, itu artinya aku sama saja dengan membenci semua ilmu yang ada di buku. Sangat disayangkan jika itu semua terjadi padauk, apa jadinya aku nanti Bu? Tidak tau apapun dan sedikit informasi bahkan pengetahuan yang aku miliki” Aku berkata dengan hidung dan mata yang masih memerah.
Aku sangat menyayangi buku, terlebih lagi aku mendapati bahwa banyak teman-teman ku yang tidak suka membaca. Aku heran mengapa mereka tidak menyukai buku. Padahal banyak sekali manfaatnya. Aku berfikir hal itu sangat aneh, padahal banyak sekali kejadian dan keajaiban dunia di dalam buku. Banyak juga misteri bahkan pengetahuan didalamnya. Hanya dengan sebuah rangkaian kata kamu dapat merasakan seperti hidup didalamnya. Hebat bukan, jadi tidak ada ruginya jika aku menyayangi buku dan menganggapnya seperti sahabatku.
Semenjak saat itu, aku sangat menyukai buku bahkan aku sudah menganggap nya seperti sahabatku sendiri. Kini semua temanku menyebutku Si Kutu Buku. Karena mereka sering melihatku duduk dibangku dengan buku yang terbuka. Tidak heran mereka memanggilku seperti itu, memang kenyataannya aku selalu membawa buku dimanapun itu. Ya, aku memiliki cita cita menjadi seorang penulis buku cerita. Mungkin nanti aku akan menjadi seorang penulis terkenal dengan tulisannya yang dikenal banyak orang. Karena cita-citaku itu, Ibuku kerap melihatku ketiduran dengan tangan yang masih memegang buku. Bahkan tak hanya sekali, namun berrkali-kali Ibuku mendapatiku ketiduran dengan membawa buku. Semoga dengan kesukaanku membaca buku, cita-citaku bisa segera terwujud.
– Selesai –
JALAN MENGGAPAI MIMPI
Oleh Muhammad Alhan Saif Amrullah
Suatu malam di musim hujan yang suram dengan hawa dingin menusuk tulang disertai angin kencang yang menggetarkan kaca jendela. Hujan deras berdenting di kaca setiap angin berembus kencang. Derasnya hujan menggambarkan betapa sedih hatinya. Sambaran petir yang menggelegar mewakili betapa marah dan hancur perasaan yang tak mampu dia ungkapkan. Kamar sederhana nya di pinggiran kota menjadi saksi bisu perilaku bejat sang ayah kepada anak perempuan semata wayangnya.
Gadis yang menangis sesegukan itu bernama Laura, ia berusia 15 tahun yang saat ini duduk di bangku 3 SMP. Dia adalah anak semata wayang dari pasangan Rudi dan Heni. Ayahnya merupakan tukang mabuk dan pejudi aktif, sementara sang ibu hanyalah seorang pustakawan di perpustakaan kota. Masa kecil Laura berbeda dengan anak-anak kebanyakan yang hidup bahagia bersama orang tuanya. Gambaran kebahagiaan dalam kehidupan hanya diisi teriakan pertengkaran kedua orang tuanya yang saling mencaci maki, meneriaki, bahkan sampai pecahan piring adalah pemandangan yang sering dilihat nya.
Namun sang ibu selalu berusaha melindungi Laura dari kekerasan sang ayah. Namun apa boleh buat setiap kesabaran pasti ada habisnya. Suatu hari ibunya sudah lelah dan jenuh dengan kelakuan sang suami sampai ia menggugat cerai Rudi suaminya. Namun, nasib baik sedang tidak bepihak kepadanya. Saat persidangan berlangsung trenyata hak asuh Laura jatuh kepada Rudi mantan suami Heni. Saat itu Laura masih duduk di bangku kelas 6 SD.
“Laura kejarlah mimpimu Tuhan pasti akan memberikan jalanya”, kata Heni di daun pintu rumah bersamaan dengan mengecup kening anak kesayanganya sebelum ia benar-benar meninggalkan rumah tersebut.
“Bu…..jangan pergi!!” Seru Laura sebelum sang ibu pergi meninggalkan nya.
Laura memiliki hobi yang sama dengan sang ibu yaitu membaca dan menulis. Laura rajin menulis novel kemudian ia unggah di media sosial miliknya dengan sembunyi-sembunyi dari sang Ayah. Jika hal tersebut diketahui ayahnya makanya ia akan disiksa. Malam itu, saat Laura sedang menulis nasib baik sedang tidak berpihak kepadanya.
“ BRAAK!!” Suara keras memekakkan telinga berasal dari bantingan pintu kamar Laura.
“Laura! Dasar anak tidak berguna, Apa sebenarnya yang kau lakukan sampai-sampai kau juga tak kunjung datang” Bentak Rudi sambil merangsek masuk kamar Laura.
Laura yang sedang menulis kelanjutan novelnya gelagapan melihat sang Ayah memasuki kamarnya.
“Ma..maaf, Yah, aku sedang mengerjakan tugas dari sekolah.” Jawabnya gugup.
“Tidak! Kau pasti sedang menulis dongeng murahan itu!” Rudi yang tidak percaya menarik paksa kertas di depan Laura.
“Yah…..Jangan, Yah….” Seru Laura berusaha menahan kertas hasil torehan imajinasinya.
Namun sekuat apapun ia menahan kertas tersebut kekuatan Rudi jelas telak mengalahkannya.
“Sudah ku bilang berapa kali hah!! Berhenti menulis dongeng murahan itu bodoh. Itu tidak akan membuatmu kaya dasar anak tak tau diuntung!” Bentak Rudi bersiap menyobek kertas di genggamannya.
“Yah ku mohon jangan lakukan itu…” Mohon Laura sambil memegangi kaki Ayahnya.
Rudi tidak menghiraukan rintihan sang anak tanpa pikir panjang merobek-robek kertas tersebut.
Rudi menjambak rambut panjang Laura membuat nya berdiri.
“PLAAK!!” Tangan besar milik Rudi telak mengenai pipi putih Laura dan meninggalkan bekas merah di sana.
Tidak puas dengan apa yang sudah dilakukannya ia mendorong tubuh Laura membuatnya tersungkur di lantai.
“Sekali lagi kau tertangkap basah aku akan menghukummu tanpa ampun! Dasar anak tak berguna!” Tegas Rudi sambil meninggalkan kamar sang anak.
Laura tertatih-tatih mengambil sobekan kertasnya, Padahal ia menghabiskan akhir pekanya untuk menulis lanjutan novelnya. Sambil menangis sesegukan ia berusaha menyatukan kembali robekan kertas-kertas tersebut. Sampai kantuk yang menenangkan nya dalam tidur. Dia akan membuktikan kepada Ayah nya jika selama ini sang Ayah salah menilai tulisan nya tidak berguna. Dia akan membuktikan bahwa dia akan sukses dengan tulisan nya.
“Kriiing”……suara jam weker di kamar Laura mulai berdendang untuk membangunkanya.
Cahaya hangat mentari pagi masuk melalui ruas-ruas jendela kamar Laura kemudian ia gegas keluar kamar untuk meyiapkan sarapan. Hari ini dia memasak nasi goreng dari nasi semalam dan bahan seadanya. Setelah nasi goreng di piring nya tandas ia menyiapkan sarapan untuk sang Ayah lengkap dengan air minum nya. Begitulah kehidupan Laura walaupun sang Ayah selalu berbuat kasar kepadanya ia tetap melayani sang Ayah dengan sepenuh hati.
Tepat pukul 07.00 WIB setelah memastikan semuanya bersih ia bergegas berangkat ke sekolahanya menggunakan sepeda. Jarak rumahnya dengan sekolah memang tidak terlalu jauh hanya sekitar 1 Km. Parkiran sudah hampir penuh ketika ia memarkirkan sepedanya. Ia bergegas menuju kelas karna sebentar lagi bel masuk akan segera berbunyi.
“Laura…. Kenapa kau belum melanjutkan novelmu?”
“Laura kamu membuatku tidak bisa tidur karna menunggu lanjutan ceritamu tau…”
“Laura cerita kamu nggantung banget sih bikin penasaran!”
Begitu memasuki kelas dia langsung dihadapkan dengan para penggemarnya yang protes belum mendapat kelanjutan cerita. Kelasnya seketika seperti diisi oleh dengungan lebah.
“Ma…maaf teman-teman kemarin aku tidak enak badan,” Jawabnya berbohong. Bagaimana dia akan mengunggah kelanjutan ceritanya jika kertasnya saja disobek oleh sang Ayah. Teman-teman Laura banyak yang mengakui bahwa tulisan Laura sangat bagus.
“Kasian tuh para penggemarmu tidak bisa tidur” Guraunya Jasmin sahabat Laura, Sebenarnya Jasmin tau alasan Laura belum mengunggah kelanjutan ceritanya tapi ia tidak ingin menambah kesedihan sahabat nya.
“DING DONG”Setelah pelajaran yang melelahkan akhirnya bel istirahat pun berbunyi.
Dua sahabat karib tersebut memutuskan untuk pergi ke kantin.
Saat perjalanan menuju kantin mereka tidak sengaja melewati papan pengumuman dan memutuskan untuk melihatnya sebentar.
“Laura lihat!” Seru Jasmin sambil menunjuk salah satu poster yang terdapat di papan pengumuman. “GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA MENCARI PENULIS MUDA” Begitulah tulisan yang terdapat pada judul poster tersebut.
“Kau harus ikut itu Laura aku yakin kamu pasti bisa menang, Lumayan loh, Ra, juara satu, dua, dan tiga bukunya akan diterbitkan oleh Gramedia kapan lagi coba kesempatan seperti ini ada. Mungkin ini adalah jalan untuk menggapai mimpimu, Ra” Rayu Jasmin kepada sahabatnya.
“Tidaklah lagi pula aku tidak punya uang sebanyak itu untuk mendaftar lomba.” Jawab Laura dengan nada sedih di ujung kalimatnya. Ia memutuskan melanjutkan berjalan menuju kantin meninggalkan sahabatnya walaupun sebenarnya dia juga ingin mengikuti lomba tersebut.
“IH RA KOK AKU DI TINGGAL SIH! TUNGGU!!” Teriak Jasmin berusaha menyusul sahabatnya.
Tanpa sepengetahuan Laura, Jasmin dan teman-temannya yang lain mengumpulkan uang untuk mendaftarkan Laura lomba tersebut. Jasmin menyertakan salah satu novel karangan Laura yang sudah selesai ia unggah di media sosial. Sore itu Jalan Laura untuk menggapai mimpinya sudah mulai terlihat.
3 hari setelah pendaftaran lomba, hari ini adalah pengumuman 10 karya tulisan terbaik yang maju ke babak berikutnya. Begitu teringat oleh hal tersebut Jasmin yang baru bangun dari tidurnya segera mengecek ponsel genggamnya.
“AAA…..” Jasmin respon berteriak histeris heboh saat melihat nama sahabatnya masuk 10 nominasi karya terbaik.
“Jasmin jangan berteriak! Segera bersiap berangkat sekolah nak sudah siang!” Seru ibunya dari lantai bawah kaget mendengar teriakan sang anak.
Jasmin menanggapi perintah dari sang ibu dengan segera menuju kamar mandi. Dirinya sudah tak sabar memberitahu kabar gembira ini pada sahabat baiknya.
Sampai di gerbang sekolah saat pak satpam bersiap menutup gerbang sekolah, Jasmin segera bergegas menuju kelasnya, Seluruh bangku sudah terisi ketika dia masuk kelas. Dia segera duduk menghampiri sahabatnya dengan terengah-engah.
“Min kamu gak papa?ini minum dulu” Ucap Laura sambil memberikan botol minum nya untuk sang sahabat.
“Iya makasih Ra..” Jawab Jasmin sebelum meneguk air minum yang diberikan Laura.
“Oh iya, Ra selamat ya….Kamu lolos seleksi dan masuk 10 besar.” Seru Jasmin penuh semangat yang mendapat respon bingung dari sahabatnya.
“Lolos apa? bahkan aku tidak pernah mendaftar lomba apapun.” Ucap Laura penuh kebingungan.
“Jadi waktu itu aku dan para penggemarmu patungan untuk mendaftrkanmu lomba yang ada di papan pengumuman itu.” Jelas Jasmin kepada Laura.
“Ya ampun….kalian baik sekali,aku tidak tahu harus membalas nya dengan apa.” Seru Laura dan langsung memeluk sahabat dekatnya. Matanya yang biasanya mengeluarkan air mata kesedihan kali ini mengeluarkan air mata haru tidak menyangka sahabat dan teman-temannya begitu baik kepadanya. Kata-kata Ibunya tentang Jalan yang akan diberikan Tuhan untuk menggapai mimpinya terngiang-ngiang di kepalanya. Apakah mungkin ini adalah awal dari jalan tersebut? Pertanyaan tersebut memenuhi kepalanya.
Para penggemar alias teman-teman nya juga memeluk nya dan mengucapkan selamat.
“Kau hanya perlu tambah rajin melanjutkan cerita mu Laura untuk membalas nya”
“Iya jangan membuat ku susah tidur lagi ya…
“Semangat Laura kita yaki kamu pasti menang!”
Seru beberapa teman nya menyemangati,kelas pun di penuhi dengan gelak tawa mereka.
Bel istirahat sudah berbunyi sejak tadi kedua sahabat itu masih berada di kelas mereka,membahas tentang lomba babak berikut nya.
“Disini tertulis 10 peserta yang lolos di babak berikut nya diberi arahan untuk membuat cerita pendek bertema literasi dengan batas waktu pengumpulan terakhir hari Jumat, Ra.” Jelas Jasmin sambil membaca pengumuman dari ponsel genggamnya.
“Sekarang hari Kamis berarti besok sudah hari terakhir ya…” Jawab Laura, namun itu bukan masalah baginya dia sedari kecil memng memiliki hobi menulis dan memang itu kelebihanya.
“Iya kamu benar juga. Ayo Laura semangat! Kamu pasti bisa tunjukkan kepada Ayahmu kalau kamu bisa sukses dengan dongeng murahan itu.” Goda Jasmin pada sahabatnya.
“HEY!! SINI KAMU JASMIN!” Seru Laura tidak terima dan berusaha mengejar sahabatnya Jasmin yang merasa terancam berlari keluar kelas
“Laura berhenti mengejarku! Lebih baik kau memikirkan cerpenmu jika ingin menang.” Teriak Jasmin sambil berusaha lari dari kejaran Laura.
Hari yang di tunggupun akhirnya tiba,setelah menyelesaikan cerpen bertema literasi milik nya via daring sekarang adalah hari Minggu. Hari pengumuman pemenang lomba yang diadakan oleh penerbit buku nomer 1 di Indonesia itu. Pengumuman sekaligus pembagian hadiah kepada para pemenang lomba tersebut dilaksanakan di Balai Kota.
Mentari pagi memamerkan senyuman indahnya. Hari ini adalah hari yang cerah tanpa awan di langit membuat orang-orang merasa bahagia dan memutuskan menghabiskan akhir pekan bermain di luar. Namun berbeda dengan Laura, dirinya yang malang sedang bingung bagaimana caranya dia akan keluar rumah menuju Balai Kota. Sedangkan Ayahnya duduk di ruang tengah sedang menonton siaran berita. Dia tidak mungkin meminta izin kepada sang Ayah karena tidak mungkin juga Ayahnya akan mengizinkannya keluar. Berbanding terbalik dengan Laura, Jasmin sahabat baiknya telah menunggu di depan pagar Balai Kota sepuluh menit yang lalu padahal acaranya baru akan di mulai dua puluh menit lagi.
“Laura kamu dimana? Aku sudah di depan Balai Kota. Kamu tidak kasihan sahabat mu gosong di bawah senggatan sang surya?” Keluh Jasmin yang berbicara dengan Laura lewat sambungan telfon genggam.
“Iya sebentar Ayahku masih di rumah. Aku bingung bagaimana caranya keluar.“ Belum genap kalimat Laura Ayah nya memanggilnya, ia pun langsung mematikan sambungan telponnya dengan Jasmin”
“LAURA!!” Teriak sang Ayah di daun pintu rumah di belakangnya ada dua laki-laki berpakaian serba hitam.
“Iya yah,ada apa?” Jawab Laura sambil mnghampiri sang Ayah.
“Ayah akan keluar sebentar kamu kunci rumah”Seru Ayah nya sambilberjalan keluar.
Laura meresponnya dengan anggukan kepala dan akhirnya ada keajaiban yang terjadi. Dia tidak akan menyangka bahwa itu merupakan percakapan terakhirnya bersama sang Ayah. Dia mengintip lewat jendela Ayahnya bersama dua laki-laki yang berpakaian serba hitam itu memasuki mobil sedan hitam yang kelihatanya sangat mewah. Tapi Laura tidak terlalu memikirkan kemana perginya sang Ayah, dia segera memesan ojek online menuju Balai Kota. Dia harus bergegas karna sepuluh menit lagi acaranya akan dimulai.
Sesampainya di Balai Kota Jasmin sudah berjalan bolak-balik menunjukkan ekspresi cemas. Begitu melihat Laura datang dia segera menariknya menuju ke dalam Balai Kota karna acaranya sudah di mulai.
“Langsung saja kita umumkan juara lomba ‘GRAMEDIA MENCARI PENULIS MUDA’” Suara Pembawa Acara yang berada di atas panggung memenuhi ruangan.
“Juara tiga TERE LIYE” suara sorak penonton memenuhi ruangan,terlihat raut sedih di wajah Laura
“Juara dua HABIBURRAHMAN” Jasmin berusaha menguatkan sahabatnya
“Juara satu yang mendapatkan hadiah utama sebesar sepuluh juta dan bukunya akan langsung di terbitkan oleh GRAMEDIA penerbit nomer satu di negara kita, yaitu LAURA”
“YE……” Suara penonton memenuhi ruangan
“Selamat Ra akhirnya impia kamu tercapai.” Ucap Jasmine sambil memeluk sahabat baiknya
Sang pemilik nama masih terkejut dan tidak menyangka dia menjadi juara. Akhirnya dia naik ke atas panggung setelah Pembawa Acara memanggilya sekali lagi dan Jasmin meyakinkanya untuk naik. Kejadian itu sangat cepat bahkan tidak akan ada yang menyadari bahwa peristiwa itu akan terjadi.
Setelah acara penerimaan hadiah selesai Laura mendapat telpon dari Ibunya bahwa Ayahnya ada di rumah sakit. Ayahnya memiliki beberapa hutang kepada seorang rentenir dan orang yang menjemputnya tadi adalah orang suruhan rentenir tersebut. Tubuh Ayahnya ditemukan beberapa menit lalu di gang sempit dengan luka tusukan di beberapa titik. Naas saat Laura dan Jasmin sampai di rumah sakit nyawa Ayahnya sudah tidak bisa diselamatkan. Setelah kejadian menyedihkan tersebut Laura memulai kehidupan baru bersama Ibunya dan memulai kariernya sebagai Penulis Muda.
MEMBANGUN PERPUSTAKAAN
Oleh Muhammad Ibnu Aufa Yudhomiranto
Cahaya matahari bersinar memasuki bumi. Senyum hangat nan cerah terpancarkan lewat cahayanya yang bersinar terang di pagi hari itu. Semua orang yang terkena cahayanya akan ikut tersenyum juga dengan riangnya. Di suatu pagi yang cerah, terlihat sosok gagah perkasa yang sedang berada di depan kelas pada sebuah gedung sekolah. Ia adalah Agung, seorang pelajar tingkat kelas 12 SMA.
Suatu ketika, Agung memiliki waktu yang sangat luang. Ia hanya berbaring-baring tiduran tak melakukan apapun seperti mayat hidup. Ia merasa bosan sekali. Kemudian, terbesitlah ide yang sangat cemerlang pada otak Agung. Daripada tidak melakukan apapun, ia pikir akan lebih baik jika ia memanfaatkan waktunya untuk belajar bersama temannya. Ia kemudian mengajak Beni untuk belajar bersama di suatu kedai. Awalnya, Beni menolak. Namun, Agung bersikeras untuk mengajaknya. Kilauan-kilauan cahaya bersinar pada kedua bola matanya. Agung menunjukkan raut muka memohon dengan sangat. Wajahnya seolah-olah berkata bahwa ia adalah orang paling kasihan di dunia ini. Beni tak tega untuk menolaknya. Ia pun setuju dengan ajakan Agung. Kemudian, ia pun datang ke sebuah kedai yang dibicarakan oleh Agung.
“Ayo main game bareng, Agung!” Ajak Beni memegang ponsel di tangannya.
“Bukankah kita akan belajar bersama?” Tanya Agung bingung.
“Santai saja. Masih ada waktu sekitar tiga minggu sebelum hari ujian tiba. Kita bisa bersantai-santai dulu seperti bermain game.” Jawab Beni santai.
“Walaupun masih ada waktu tiga minggu sebelum hari ujian tiba, kita harus mempersiapkannya mulai dari sekarang.” Tegur Agung.
“Tapi, belajar itu membosankan. Padahal ada pekerjaan yang lebih seru seperti bermain game lantas mengapa kita harus melakukan suatu pekerjaan yang membosankan seperti membaca buku?” Ucap Beni malas.
“Memang benar kalau belajar itu membosankan. Tapi, aku yakin sekali kalau kita membiasakan diri untuk belajar, pasti suatu saat akan menghasilkan suatu hasil yang sangat memuaskan.” Tegur Agung lagi.
“Kalau begitu, mohon izinkan aku bermain game satu babak lagi. Setelah itu, kita akan belajar bersama.” Balas Beni memohon.
“Kamu harus berjanji kalau kita akan belajar bersama setelah kamu selesai bermain game itu. Harus satu babak saja. Tidak boleh lebih!” Ucap Agung tegas.
“Iya. Aku akan berjanji dengan sepenuh hatiku.” Balas Beni berjanji.
Agung kemudian membaca sebuah buku yang ia bawa. Di saat sedang asyik membaca buku, Agung melihat-lihat orang yang ada di sekitarnya. Ia melihat dengan sangat cermat setajam penglihatan elang. Ternyata, banyak sekali orang yang asyik bermain ponselnya. Tak ada satu pun dari mereka yang asyik membaca buku seperti Agung. Ia merasa heran dengan hal itu.
“Semua orang yang ada disini asyik sekali bermain ponselnya, ya.” Ucap Agung terheran-heran.
“Tentu saja. Ini adalah zaman modern. Semua orang pasti tidak bisa lepas dari ponselnya.” Jawab Beni.
“Tapi, bukankah buku itu lebih menarik? Mengapa mereka lebih senang dengan ponselnya? Memangnya apa yang menarik dari sebuah ponsel?” Tanya Agung terheran-heran.
“Itu menurutmu. Tetapi bagi mereka itu adalah sebaliknya. Mereka menganggap bahwa ponsel itu lebih menarik daripada sebuah buku.” Jawab Beni.
“Begitu, ya. Sedikit demi sedikit aku bisa memahaminya.” Balas Agung menganggukkan kepalanya.
Di siang hari yang cerah, matahari bersinar terang dengan riangnya. Cahaya matahari datang memasuki bumi dengan terangnya. Cuacanya menjadi benar-benar panas. Bongkahan es di kutub utara saja bisa meleleh karena panasnya matahari di siang hari ini. Panas terik begitu bukanlah merupakan sebuah penghalang bagi Agung dan Beni. Mereka berdua memiliki sebuah rencana untuk pergi menuju ke sebuah toko buku ternama. Agung dan Beni kemudian berjalan kaki menuju ke toko buku itu. Disaat sedang berjalan-jalan, mereka berdua melihat setumpukan buku yang sangat banyak tergeletak di dekat tong sampah. Agung merasa terkejut. Hatinya berkecamuk terluka seperti terkena luka sayatan pisau. Ia tak bisa membiarkan buku itu berangguran dibuang. Dengan sigap, ia pun langsung memungut buku-buku itu.
“Apa yang mau kamu lakukan dengan buku-buku itu?” Tanya Beni penasaran.
“Daripada buku ini dibuang, lebih baik aku simpan di rumah. Lagipula buku ini masih lumayan bagus.” Jawab Agung sembari memungut buku-buku itu.
“Kamu mau membacanya sendiri? Apakah kamu sanggup membacanya seorang diri?” Tanya Beni penasaran.
“Tentu saja aku sanggup! Mau ada ratusan, ribuan atau bahkan jutaan hingga milyaran, aku pasti sanggup untuk membaca semua buku itu!” Jawab Agung sangat yakin.
“Kalau begitu maka buku itu hanya akan berguna untuk dirimu saja. Mengapa tidak dibagikan saja kepada orang lain? Dengan itu, pasti akan ada banyak orang yang terbantu berkat buku yang kamu bagikan itu.” Tanya Beni berpendapat.
“Memangnya ada yang mau membaca buku di zaman modern seperti ini? Bukankah orang-orang pasti akan lebih memilih ponselnya daripada sebuah buku pengetahuan seperti ini?” Balik tanya Agung.
“Apa yang kamu katakan ada benarnya juga. Tetapi, apa salahnya untuk mencoba hal yang baru?” Ucap Beni bertanya-tanya.
“Baiklah. Aku akan mencobanya!” Balas Agung yakin dan semangat.
“Semangatmu itu sangatlah bagus. Lalu, darimana kamu akan memulainya?” Tanya Beni
“Aku akan mulai dengan menjual buku-buku.” Jawab Agung.
“Bagus juga idemu itu. Tetapi, yang menjadi masalahnya adalah pembelinya. Apakah akan ada yang mau membeli buku-buku itu?” Balas beni bertanya.
“Lumayan susah juga, ya. Ternyata hal ini tidak begitu mudah seperti yang kupikirkan.” Jawab Agung menghela nafasnya.
“Bagaimana kalau disumbangkan saja?” Ujar Beni.
“Disumbangkan kemana?” Tanya Agung.
“Bagaimana kalau disumbangkan ke perpustakaan?” Jawab Beni berpendapat.
“Benar juga. Perpustakaan adalah tempat yang ramai dikunjungi orang untuk membaca buku. Pasti banyak orang yang akan membaca buku-buku yang ada di perpustakaan itu.” Balas Agung menganggukkan kepalanya.
“Tepat sekali!” Ucap Beni mengacungkan jempolnya.
“Aku tiba-tiba mempunyai sebuah ide yang menarik. Aku akan membangun sebuah perpustakaan sendiri!” Balas Agung dengan semangatnya penuh.
“Itu adalah ide yang besar. Semangat meraih impianmu itu, Agung.” Ucap Beni memberikan semangat.
Hari demi hari terus berlalu. Satu demi satu tetesan keringat diperjuangkan. Rasa lelah menjadi lawan. Rasa senang menjadi kawan. Agung terus menabung sedikit demi sedikit hingga lama kelamaan menjadi bukit. Hanya tinggal satu langkah saja Agung mampu meraih impiannya. Hingga, pada suatu hari ia bertemu dengan temannya yang bernama Rudi.
“Aku dengar kamu ingin membangun perpustakaan sendiri. Apakah itu benar?” Tanya Rudi.
“Benar sekali. Aku yakin pasti banyak orang yang akan berkunjung nanti!” Jawab Agung yakin.
“Zaman sekarang orang-orang pasti akan lebih memilih ponselnya daripada sebuah buku. Aku yakin pasti perpustakaan itu akan menjadi sepi nanti. Lebih baik urungkan saja niatmu itu.” Hujat Rudi.
“Mana mungkin begitu! Yang namanya perpustakaan itu ramai dikunjungi banyak orang, lho. Banyak yang suka membaca buku di perpustakaan.” Bantah Agung.
“Aku baru saja lewat ke beberapa perpustakaan. Banyak perpustakaan yang sepi pengunjung. Bahkan, ada beberapa yang terpaksa menutup perpustakaannya karena tidak pernah ada orang yang datang untuk berkunjung.” Ucap Rudi yakin.
“Mana mungkin hal seperti itu benar-benar terjadi.” Bantah Sean dengan muka sedihnya.
Mendengar itu, Agung menjadi sakit hati. Hatinya hancur berkeping-keping. Hatinya terluka seakan-akan tertusuk oleh pedang. Padahal ia sudah menabung cukup banyak untuk membangun sebuah perpustakaan. Hanya tinggal satu langkah saja ia berhasil mewujudkan impiannya. Tapi, tiba-tiba ia mengurungkan niatnya. Ia menjadi putus asa dan menyerah. Rasa putus asa dan menyerah berputar-putar mengelilingi Agung. Agung yang sekarang menjadi sangat putus asa. Bahkan, untuk makan saja ia tidak selera. Tidurnya juga tidak nyenyak. Sudah berhari-hari lamanya ia tidak tidur. Matanya sudah menjadi hitam pekat seperti mata panda. Melihat hal itu, Beni penasaran dan langsung pergi menemui Agung.
“Mengapa kamu tidak jadi membangun perpustakaan?” Tanya Beni penasaran.
“Aku pikir hal itu akan menjadi sia-sia saja. Lagipula, orang-orang pasti akan lebih memilih ponselnya daripada sebuah buku. Aku yakin perpustakaanku itu nanti akan menjadi sepi.” Jawab Agung putus asa.
“Padahal kamu awalnya sangat bersemangat. Tapi, mengapa sekarang kamu menjadi putus asa begitu?” Tanya Beni khawatir.
“Aku telah memikirkannya berulang-ulang kali. Mungkin saja memang benar kalau perpustakaanku nanti akan menjadi sepi.”Jawab Agung putus asa.
“Kamu harus yakin, Agung! Aku yakin usahamu selama ini tidak akan mengkhianati hasil. Aku baru melihat ada orang yang memiliki semangat penuh. Kamu adalah orang yang mampu mewujudkan perubahan. Dengan semangatmu yang hebat itu, pasti perpustakaanmu akan ramai dikunjungi banyak orang nanti!” Bujuk Beni.
“Tapi, bagaimana kalau masih tetap sepi? Kalau begitu, usahaku akan menjadi sia-sia.” Tanya Agung putus asa.
“Yang terpenting adalah yakin dulu. Kamu harus mencobanya terlebih dahulu. Jika perpustakaanmu itu nanti menjadi sepi, maka kita akan mencari solusinya bersama!” Jawab Beni memberinya semangat.
“Baiklah. Aku akan mencobanya!” Balas Agung kembali semangat.
Hari demi hari terus berjalan. Kini, Agung kembali melangkah meraih impiannya. Sebanyak apapun halangan dan rintangan di masa mendatang, itu tidak menjadi masalah bagi Agung. Baik itu gempa, longsor maupun tsunami tidaklah menjadi masalah bagi Agung. Karena, ia tidak sendirian lagi. Kini, ia melangkah bersama dengan temannya, Beni. Semua halangan maupun rintangan sebesar apapun hanya akan terasa seperti angin kecil yang lewat saja baginya.
Tak terasa waktu telah berlalu. Tibalah hari dimana perpustakaan yang Agung impikan sudah jadi. Detak jantung berbunyi sangat kencang. Rasa berdebar-debar menjadi goncangan. Ini adalah hari pembukaan perpustakaan yang Agung dan Beni bangun dengan hasil dan jerih payahnya. Setiap tetes air keringat yang berjatuhan selama sekian lama akan terbukti pada hari ini.
Perpustakaan yang dibangun oleh Agung dan Beni secara resmi dibuka. Padahal baru hari pertama semenjak perpustakaan itu dibangun. Tapi, sudah banyak orang yang mengunjungi perpustakaan itu. Senyum bahagia dan senang terpancarkan pada muka Agung dengan indahnya. Senyum yang ditorehkan pada muka Agung bagaikan melihat bintang-bintang yang bersinar di malam hari.. Melihat Agung tersenyum dengan bahagianya, membuat Beni ikut tersenyum.
“Ternyata kamu benar, Beni. Banyak orang yang mengunjungi perpustakaan ini.” Ucap Agung senang.
“Benar, kan apa yang kubilang. Perpustakaanmu itu pasti akan menjadi ramai.” Balas Beni membanggakan diri.
“Terima kasih, Beni. Karena telah membantuku.” Ucap Agung berterima kasih.
“Jangan sungkan-sungkan padaku, Agung. Kamu bebas meminta bantuan apapun padaku.” Balas Beni dengan tersenyum lebar.
“Syukurlah, perpustakaan ini menjadi ramai.” Ucap Agung bersyukur.
“Aku yakin pasti perlahan orang-orang akan meluangkan waktunya untuk membaca buku di perpustakaanmu. Perpustakaanmu itu pasti akan menjadi penopang gaya literasi!” Balas Beni yakin serta ikut senang juga.
“Iya. Aku harap juga begitu.” Ucap Agung bahagia.









