CERPEN KARYA SISWA SMA QUEEN AL FALAH DALAM YPC (YOUTH PUBLIC INNOVATION) TAHUN 2025

Salah satu prestasi membanggakan diraih oleh siswa SMA Queen Al Falah, M. Abhista Hannan, yang berhasil menorehkan karya cerpen dalam ajang bergengsi Youth Public Innovation (YPC) tahun 2025. Kompetisi yang diadakan oleh Universitas Negeri Surabaya (UNESA) pada 16 Februari 2025 ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk menuangkan ide, kreativitas, serta inovasi dalam bentuk karya tulis, termasuk cerpen. Dengan penuh semangat, Abhista menghadirkan kisah yang tidak hanya menarik, tetapi juga sarat pesan moral dan nilai kemanusiaan.

Partisipasi Abhista dalam lomba cerpen YPC ini menjadi bukti bahwa siswa SMA Queen Al Falah mampu bersaing di tingkat nasional melalui karya tulis kreatif. Dukungan penuh dari pihak sekolah turut mendorong lahirnya karya yang berkualitas dan inspiratif. Melalui keberhasilan ini, diharapkan semakin banyak siswa yang termotivasi untuk mengembangkan potensi literasi, khususnya di bidang sastra, serta berani menunjukkan karya terbaik mereka pada ajang-ajang bergengsi berikutnya.

Berikut adalah karya cerpen yang telah dibuat

POLITIK KESEJAHTERAAN KUCING
Oleh MUHAMAD ABHISTA HANAN A.

BREAKING NEWS ‒Telah terjadi kerusuhan di beberapa tempat
penitipan kucing elite yang dilakukan oleh sebagian warga beserta para kucing
milik mereka. Kerusuhan tersebut dipicu karena mereka menuntut adanya keadilan
dan fasilitas negara mengenai pembagian makanan bergizi bagi para kucing yang
mereka pelihara. Dari hasil wawancara beberapa demonstran, mereka mengaku
kesal melihat para pejabat dan para petinggi elite yang memelihara kucing karena
adanya indikasi kecurangan dan ketimpangan. Para demonstran mengaku bahwa
mereka sering kesulitan dalam mendapatkan makanan yang layak bagi kucing
mereka karena adanya tindakan monopoli harga makanan kucing yang dilakukan
oleh beberapa petinggi elite.
***
“Hai Oneng, selamat pagi.” Ucap seorang remaja laki-laki sembari berjalan
menghampiri objek yang disapanya.
“Meong…” Jawab Oneng seakan menjawab sapaan pria tadi.
“Kamu belum sarapan, ya, Neng? Kok tampak lesu?” Tanya sang pria.
Si Oneng pun hanya diam karena seharusnya majikannya tahu bahwa ia
memang sedang kelaparan. Mengetahui kucingnya diam saja, pria tersebut
kemudian berjongkok untuk mengusap-usap lembut kepala Oneng seraya berujar,
“Hahaha… bercanda, Oneng, aku tahu kamu memang lapar.” Setelahnya, sang pria
kembali berdiri dan berucap, “Sebentar ya, Oneng… tunggu dulu.” Akhirnya, sang
pria pun menuju ke dapur guna mengambil makanan si kucing.
“Yah… tinggal satu kaleng lagi jatah makanan si Oneng habis…” Seloroh
sang pria dengan nada sedikit lesu dan mengambil jatah makanan si Oneng. Lalu,
pria tersebut menuangkan jatah makan itu di tempat biasa Oneng makan dan
membawanya ke depan untuk disajikan kepada majikan kecilnya itu.
“Neng, sini, Neng!” Panggil sang pria yang langsung dihampiri kucing kecil
itu dengan langkah riang. “Ini, ya, Neng geulis makanannya, mangga atuh dimakan,
ya…” Ujar sang pria kepada Oneng yang telah tiba di tempatnya makan. Si kucing
lucu itu tanpa acuh mendengarkan ucapan sang pria. Dia segera melahap makannya
dengan sesekali menjilati sekitar bibirnya.
“Jadi, gini Neng, berhubung makanan kamu habis, gimana kalau kita nanti
habis makan belanja kebutuhanmu?” Sang pria tetap bertanya meski tahu bahwa
Oneng tidak menghiraukan ucapannya sama sekali. Sedikit geregetan karena tidak
diacuhkan sedari tadi, pria itu pun mengangkat si Oneng yang sedang asyik
mengunyah makannya dan bertanya lagi, “Eh, Neng, jawab atuh pertanyaan Akang,
inikan juga demi kamu, Neng.” Ujar sang pria meminta perhatian.
“Meong…” Jawab si Oneng seakan menyanggupi permintaan sang pria.
Mendengar si kucing mengeong, sang pria dengan nada puas berujar,
“Nah… gitu dong, Neng, sok atuh dilanjut makannya.”
Turun dari gendongan sang pria, Oneng pun segera melahap kembali
makanannya sedangkan sang pria pergi ke dapur untuk bersiap-siap memasak
sarapan untuk dirinya sendiri. Tak lama setelah itu, si Oneng yang telah selesai
makan pun berjalan menghampiri sang pria yang menyebut dirinya sendiri sebagai
Akang.
“Eh… ada apa, Neng? Tumben banget nyamperin tanpa dipanggil?” Tanya
Akang penasaran. Ditanya demikian, si Oneng segera menjawab, “Meong…”
Kucing itu terus mengeong manja seraya berputar-putar di kaki si Akang.
“Nanti aja atuh, Neng…” Jawab si Akang seakan mengerti apa yang
diucapkan si Oneng. Tak peduli dengan ucapan sang pria, Oneng kembali bersuara
seakan menegaskan permintaannya, “Meong…”
“Hmm… ya udah atuh, Akang ikut Oneng, tapi Akang ganti baju dulu, ya.
Masa mau belanja pakaiannya kaya mau tidur,” ujar Akang seraya beranjak ke
kamar sedangkan Oneng berjalan ke depan rumah.
Pada saat itu, memang hampir seluruh lapisan masyarakat di negeri ini
memiliki kucing yang menjadi pendamping hidup mereka. Bahkan, bisa jadi satu
keluarga menganggap kucing mereka sebagai salah satu anak yang wajib mereka
nafkahi. Selain itu, pemerintah pun juga membuat undang-undang khusus tentang
pemeliharaan kucing.
“Neng… Oneng…” Teriak si Akang yang disahuti Oneng dengan
mengeong. Mendengar itu, si Akang langsung menuju ke depan sembari memakai
sepatu yang digunakannya untuk pergi belanja sekalin jalan-jalan.
“Eh… kamu sudah di sini aja, Neng, nungguin, ya…” Ujar si Akang
menggoda si Oneng yang hanya dijawab hembusan angin.

Akhirya, mereka pun berangkat menuju ke kota menggunakan mobil milik
si Akang. Di tengah perjalanan, si Akang melihat banyak orang dengan kucing
mereka tampak yang mengerubungi sebuah tempat penitipan kucing elite milik para
petinggi.
“Kasihan, ya, Neng, mereka dimiliki oleh para petinggi elite yang
memenuhi segala fasilitas yang digunakan untuk merawat kucing. Namun, kucingkucing itu sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang dari pemilik mereka. Nggak
kaya kamu yang setiap hari aku sirami dengan kasih sayang, ya, kan, Neng?!”
Tanya si Akang meminta persetujuan.
“Meong…” Jawab si Oneng seakan terpaksa menjawab pertanyaan yang
diajukan. Mendengar itu, si Akang berujar gemas, “Hahaha… kamu memang paling
lucu, Neng.”
Setelah mereka sampai di tempat parkir mobil, mereka pun berjalan menuju
ke tempat penjualan makanan dan fasilitas para kucing. Saat di tengah perjalanan
menuju ke toko, si Akang pun bertanya pada si Oneng, “Eh Neng, menurutmu,
kenapa harga makananmu itu tiap minggu pasti naik? Kan, kasihan para pemilik
kucing yang lain yang nggak sanggup membelinya.” Tanya si Akang yang dijawab
Oneng dengan diam. “Terus kalau mereka nggak bisa makan makanan yang bergizi,
nanti mereka kayak gimana, ya…?” Tanya si Akang lagi. “Apa kamu aku kasih
makan nasi aja?!” Lagi-lagi si Akang bertanya.
Seakan mengerti bahwa ide itu buruk, Oneng langsung berteriak marah,
“Meong…”
“Makanya kalau ditanya itu dijawab, Oneng…” Ujar si Akang menimpali.
Saat mereka akan memasuki kawasan toko, mereka melihat bayak warga
yang berkerumun di depan toko makanan milik pemerintah. Tiba-tiba, salah
seorang pria di kerumunan itu berteriak, “AYO SERBU!!!” Kerumunan tersebut
pun tiba-tiba menyerbu toko itu dan menjarahnya.
Melihat hal tersebut, si Akang bertanya-tanya, “Lho, Neng, ini kenapa, ya,
Neng? Kok tiba-tiba diserbu gitu aja?”
Tiba-tiba, ada salah satu pria yang melempari si Akang makanan kucing
besar dan berteriak, “Hei, ini untukmu!” Si Akang yang terkejut pun langsung
menangkap bungkusan makanan kucing porsi besar yang tentu saja harganya sangat
mahal. “Lho, ini bener buat kita, Neng?!” Tanya si Akang tidak percaya kemudian
melanjutkan, “Alhamdulillah… ya udah, Neng, ayo kita kembali ke mobil. Rezeki
nomplok, nih…” Ujar si Akang gembira sembari mengangkat si Oneng di pundak
dan membawanya berlari keluar dari kawasan toko tersebut.
“Kira-kira ada apa, ya, Neng, kok orang-orang pada begitu?” Ucap si Akang
seraya berjalan menuju ke tempat mobilnya terparkir. Tak jauh dari tempatnya, si
Akang melihat banyak masyarakat yang turun ke jalan, berdemo di depan kantor
pemerintah dekat kawasan toko makanan kucing sambil membawa kucing mereka
di pundak masing-masing. Menyuarakan semua aspirasi mereka.
“Berikan kucing kami makanan yang bergizi dan berkualitas!”
“Jangan ada monopoli harga makanan kucing!”
“Perlindungan dan perawatan terhadap kucing yang terlantar!”“Tingkatkan fasilitas kesehatan bagi para kucing!”
Mulai memahami keadaan, Akang berujar, “Oh… ternyata mereka
menyuarakan keluh-kesah yang mewakili setiap warga di negeri ini, termasuk
Akang, Neng.” Seakan ikut paham, si Oneng menimpali, “Meong…”
Akhirnya, si Akang pun keluar dan turut berdemo di depan kantor
pemerintahan karena merasa jiwanya turut terpanggil. Tidak lama setelah itu, para
ajudan Presiden pun keluar dan menyuruh para demonstran untuk tenang karena
sebentar lagi Presiden akan keluar untuk mendengar aspirasi masyarakat.
“Hadirin sekalian, saya minta maaf sebagai kepala pemerintahan negeri ini
karena kurangnya keadilan di negeri ini. Oleh karena itu, pada hari ini, saya sebagai
kepala pemerintahan negeri ini, menyatakan bahwa negeri ini sangat menghormati
kucing sebagai pendamping hidup kita. Saya berjanji akan menurunkan harga
makanan kucing dan mengadakan peninjauan rutin oleh dinas kesehatan tentang
kesehatan para kucing di negri ini. Paling penting lagi, saya akan berusaha
meniadakan tindakan korupsi dan kolusi di negeri tercinta kita. Sekian dari saya,
terima kasih.”
Mendengar ucapan Presiden, Akang berdoa, “Semoga benar terwujud janji
Presiden tadi, ya, Neng, Amin…” Si Oneng pun segera menimpali, “Miaww…

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button