
SISWA SMA QUEEN AL FALAH JUARA 2 LOMBA DONGENG UNNES TAHUN 2024
Siswa SMA Queen Al Falah kembali meraih prestasi gemilang sebagai Juara 2 dalam Lomba Dongeng yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Semarang (UNNES) pada tahun 2024. Lomba yang menguji kemampuan para peserta dalam mendongeng dengan penuh ekspresi dan imajinasi ini diikuti oleh peserta dari berbagai sekolah. Salah satu siswa berbakat dari SMA Queen Al Falah yaitu M. Abhista membuat karya dongen yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat dengan pesan moral yang mendalam. Lomba dilaksanakan secara daring pada tanggal .



berikut adalah karya dongeng yang telah dibuat.
Sang Gajah dan Sang Buaya
Oleh M. Abhista Hannan A.

Suatu hari di pagi yang cerah di sebuah hutan yang asri dengan aliran sungai
yang terlihat sangat bersih dan pepohonan yang sangat rindang, berdirilah suatu
kerajaan di tengah hutan tersebut yang dipimpin oleh seekor gajah besar yang
sangat berwibawa. Di bawah kepempimpinan sang Gajah, hutan tersebut menjadi
hutan yang sangat indah dan tentram. Rakyat hutan sangat menghormati sang Gajah
karena sejak dia menjadi raja di hutan tersebut, rakyat hutan selalu merasa aman
dari gangguan manusia yang sering menebar teror dengan memotong pohon sampai
mencemari sungai di hutan tersebut. Di masa kepempimpinan sang Gajah, dia selalu
melakukan patroli hutan dengan para pasukannya yang terdiri dari berbagai hewan
terkuat di hutan tersebut. Dengan cara seperti itu, sang Gajah selalu bisa
menggagalkan rencana manusia yang ingin melakukan penebangan pohon di hutan
tersebut.
Suatu ketika saat sang Gajah berada di tempat perkumpulan para dewan
kerajaan, sang Gajah berniat ingin mengadakan sebuah acara jamuan besar-besaran
sebagai bentuk rasa syukur para hewan di hutan tersebut pada Sang Dewa
Kemakmuran yang selalu turut menjaga hutan dari gangguan manusia maupun roh
halus..
“Wahai para dewan penasihatku, kiranya bagaimana jika kita mengadakan
acara jamuan besar-besaran sebagai bentuk rasa syukur kita pada Sang Dewa
Kemakmuran?” Tanya sang Gajah.
“Hmm… bagus sekali kiranya rencana Tuan Mulia untuk mengadakan acara
jamuan tersebut.” Timpal Gorila selaku Dewan Penasihat.
“Namun, bagaimana cara kita untuk memberi tahu seluruh penghuni hutan
yang luas ini, wahai Tuanku?” Tanya Harimau.
“Jika masalahnya itu, hamba dapat membantu dengan meminta tolong rekan
hamba untuk memberi tahu seluruh penghuni hutan yang luas ini.” Usul Elang.
“Hmm… terima kasih Elang atas jawabannya. Kalau begitu, adakah yang
perlu ditanyakan lagi?” Ucap sang Gajah
“Mohon izin bertanya, Yang Mulia.” Ucap Badak.
“Silakan, wahai Badak.” Sang Gajah mempersilakan.
“Menurut hamba, dalam penyelenggaraan acara jamuan tersebut, kita
seharusnya mengundang seluruh penghuni hutan. Namun, bagaimana dengan para
penghuni sungai yang dipimpin oleh sang Buaya?” Tanya Badak.
“Menurutku, ada baiknya kita undang saja para penghuni sungai dengan
cara kita buat sebuah kubangan air yang terletak di tempat acara dan akan kita
salurkan dengan aliran sungai, dengan begitu kita dapat melaksanakan acara jamuan
tersebut bersama-sama.” Tutur sang Gajah memberikan solusi.
“Terima kasih, Tuanku, akan saya laksanakan saran dari Tuanku.” Ucap
Badak.
Akhirnya, pertemuan yang dilakukan telah selesai dan para dewan
dipersilakan untuk bubar. Di sisi lain hutan, tepatnya di daerah sungai yang
mengalir di sepanjang hutan, para hewan yang hidup di sungai di bawah
kepempimpinan sang Buaya tampak tengah berunding tentang beberapa titik sungai
yang terlihat tercemar.
“Tampaknya beberapa kawasan di sungai kita telah tercemar, wahai
saudaraku.” Tutur Buaya yang tinggal di aliran sungai bagian timur.
“Kiranya, apa yang menjadi penyebabnya, wahai Buaya Timur?” Tanya
Buaya yang tinggal di kawasan bagian barat.
“Sepertinya sungai tersebut telah tercemar oleh perbuatan para manusia.”
Jelas Buaya Timur.
“Kalau begitu, kita lapor pada sang Gajah tentang perbuatan manusia ini.”
Usul Buaya Barat.
“Janganlah engkau laporkan pada sang Gajah! Ada baiknya jika kita saja
yang akan membasmi para manusia tersebut.” Timpal Buaya Selatan.
“Namun, bukankah sang Gajah telah menghimbau kita untuk jangan
gegabah, wahai saudaraku!?” Sanggah Buaya Utara.
“Sudahlah saudaraku, janganlah kita terlalu patuh pada sang Gajah.
Bukannya sang Gajah sendiri jarang meminta bantuan kita?! Inilah saatnya, wahai
saudaraku. Inilah saatnya kita tunjukan pada sang Gajah bahwa kita layak untuk
membasmi para manusia itu sendiri tanpa bantuan mereka!” Seru Buaya Selatan
membara.
“Baiklah saudaraku, mari kita basmi para manusia perusak tersebut.” Ajak
Buaya Utara.
Akhirnya, para Buaya pun segera menuju ke titik kawasan sungai yang telah
tercemar. Setelah para buaya sampai, mereka sangat terkejut akan keadaan kawasan
sungai tersebut. Tampak banyak limbah yang mengotori dan merusak keindahan
sungai yang mereka tinggali. Hati mereka terasa tercabik-cabik melihat kondisi
sungai. Mereka bertanya-tanya di mana kiranya sang Gajah dan pasukannya yang
biasa berpatroli. Di tengah kesedihan para Buaya, mereka dikejutkan dengan
teriakan yang memanggil mereka.
“Hai, para Buaya!” Seru Burung Hantu memanggil.
“Ada apa, hai Burung Hantu? Kenapa kau berteriak memanggil kami
dengan kencang sekali?” Timpal Buaya Timur keheranan.
“Maafkan aku atas kelancanganku, wahai Buaya. Sebenarnya aku hanya
ingin memberi tahu suatu kabar.” Ucap Burung Hantu.
“Kabar apakah yang akan kau beri tahu, wahai Burung Hantu?” Tanya
Buaya Timur.
“Kabarnya adalah bahwa kerajaan yang dipimpin sang Gajah akan
menyelenggarakan acara berupa jamuan besar-besaran.” Terang Burung Hantu.
“Tapi, dalam rangka apa sang Gajah menyelenggarakan acara jamuan
tersebut?” Tanya Buaya Utara.
“Sang Gajah akan menyelenggarakan acara tersebut sebagai bentuk rasa
syukur pada Dewa Kemakmuran.” Jelas Burung Hantu.
Buaya Timur yang tersulut emosi pun berseru, “bagaimana bisa sang Gajah
mangadakan acara jamuan saat kondisi sungai kita seperti ini?!”
“Kalau begitu, ayo kita datangi sang Gajah!” Ajak Buaya Timur.
Akhirnya, para buaya pun segera mencari keberadaan sang Gajah yang
ternyata tengah berada di pinggiran sungai dan tampak sedang berdiskusi dengan
Badak.
“Hai, Gajah, berani-beraninya kau mengadakan acara padahal kawasan
yang seharusnya kau jaga telah dicemari oleh para manusia!” Seru Buaya Timur
marah.
“Maafkan aku, wahai Buaya. Sungguh aku tidak tahu akan hal tersebut
karena aku masih sibuk dalam proyekku.” Ucap sang Gajah menyesal.
“Kalau begitu, bagaimana caramu bertangguingjawab atas kelalaianmu?”
Tanya Buaya Timur memastikan.
“Bagaimana jika kita semua membersihkan sungai tersebut? Setelahnya,
baru kita rayakan jamuan…” terang Gajah memberi solusi.
“Nanti pada saat acara akan diadakan patroli secara bergantian dan kau,
Buaya, akan aku ajak kau untuk berpatroli sepanjang sungai dan hutan.” Lanjut
sang Gajah.
“Baiklah, usulanmu aku terima dan maafkan aku, wahai sang Gajah, karena
aku telah berburuk sangka padamu.” Ucap Buaya menyesal.
Pada akhirnya, sang Gajah dan sang Buaya saling memaafkan dan
menyelesaikan kesalahpahaman di antara mereka. Keesokannya, para pasukan sang
Gajah bersama sang Buaya bekerja sama dalam membersihkan sungai yang telah
tercemari dan tidak butuh waktu lama sungai kembali bersih. Setelahnya, para
Buaya pun turut membantu dalam persiapan acara jamuan sebagai rasa terima kasih
kepada sang Gajah. Dengan demikian, acara jamuan dapat dijalankan sesuai
rencana. Sang Gajah dan sang Buaya bersama penghuni hutan lainnya
melaksanakan acara tersebut dengan diawali berdoa kepada Sang Dewa
Kemakmuran atas segala nikmatnya, kemudian acara tersebut dilanjutkan dengan
makan bersama dengan seluruh penghuni hutan.




