
KARYA SISWA SMA QUEEN AL FALAH DALAM EVENT FLS2N TAHUN 2024
FLS2N Puspresnas adalah singkatan dari Festival Lomba Seni Siswa Nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), sebuah lembaga di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. FLS2N merupakan ajang kompetisi seni yang bertujuan untuk menggali, mengembangkan, dan menampilkan potensi seni dari para siswa di seluruh Indonesia.
Tahun ini SMA Queen Al Falah mengikuti 6 Cabang Perlombaan Yaitu Lomba Menyanyi Solo, Puisi, Cerpen, Artikel, Komik dan Desin Poster. Perlombaan dilaksanakan terpisah. Untuk lomba menyanyi solo dan puisi dilaksanakan secara luring di SMAN 2 Pare pada 30 April 2024. Sementara lomba yang lain dilaksanakan secara daring. Berikut adalah karya dan dokumentasi Siswa dalam mengikuti Lomba Tersebut

























KEBAIKAN YANG TAK TERDUGA

Pagi yang indah dengan hembusan angin sejuk, disambut dengan nyanyian burung
camar yang setia menunggu untuk mendapatkan makanan. Tepat di pesisir pantai, tampak
seorang gadis cantik nan elok rupawan tengah duduk di hamparan pasir sembari mengenang
kembali masa lalunya. Saat itu, pantai yang ia lihat kini sangatlah jauh dari kondisi pantai yang
lalu. Pantai yang ia lihat saat ini tampak sangatlah kotor dan penuh dengan sampah. Dulu saat
gadis tersebut masih kecil pantai tersebut sangatlah indah tanpa sampah, pasirnya yang begitu
lembut dan warna dari lautan yang masih jernih masih terkenang di otak gadis tersebut. Namun,
semua itu berubah saat suatu hari sang gadis yang bernama Dewi Ayu Pangastuti itu tengah
berjalan bersama kawannya, tiba-tiba ia melihat sebuah truk yang melaju meninggalkan pantai
dengan kecepatan yang tinggi. Dewi pun dengan segera menghampiri bekas tempat truk tadi
dan ternyata truk itu telah membuang limbah di sekitar pantai tersebut. Kini keindahan Pantai
itu hanya bisa Dewi nikmati melalui memori kenangan indah nya, ketika pantai itu belum
tercemar.
Suatu hari saat Dewi duduk santai di depan rumahnya, ia melihat segerombolan orang
tengah mengerumuni sebuah bis. Dewi pun segera menghampiri kerumunan itu, kemudian ia
bertanya tentang apa yang sedang terjadi. Ternyata bis tersebut tidak bisa melanjutkan
perjalanan karena jalan yang akan mereka lalui tengah diperbaiki. Jalan tersebut memang sudah
hampir rubuh dan tidak bisa dilalui oleh kendaraan berat, dan pada akhirnya supir bis meminta
penumpangnya untuk menginap disekitar sini untuk sementara sampai jembatan tersebut selesai
di bangun. Setelah mengetahui berita tersebut Dewi pun segera meninggalkan kerumunan
namun, tiba-tiba tanpa sengaja Dewi menabrak seorang pria. Spontan Dewi pun meminta maaf
pada pria tersebut dan segera pergi meninggalkannya. Keesokan harinya Dewi pun kembali ke
pantai untuk melaksanakan tugasnya yaitu membersihkan sampah di pantai dan tidak lupa ia
mengajak kedua temannya yang bernama Malik dan Citra untuk membersihkan pantai bersamasama. Selang beberapa saat, Dewi melihat seorang pria yang kemarin ia tabrak sedang memotret
pantai.
“Hei, kamu kan yang nabrak aku kemarin ya kan?” Ucap pria tersebut.
“Emang kenapa kalau aku yang nabrak kamu, kan sudah minta maaf kemarin.” Ucap Dewi
dengan sedikit membentak.
“Galak bener atuh neng, nanti cepat tua lo.” Ucap pria tadi dengan sedikit tertawa.
“Terus kamu ngapain tadi fotoin aku?” Tanya Dewi.“Ih.. pede banget atuh,siapa juga mau yang fotoin kamu.” Balas pria tersebut.
“Ih..siapa juga yang mau di fotoin kamu.” Balas Dewi lagi.
“Ya udah atuh neng, eh kenalin ya nama abang Alam Jamaludin,biasa di panggil Alam.” Ucap
pria itu dengan senyumannya.
“Nama saya Dewi, dan kalau saya boleh tanya buat apa kamu fotoin pantai yang kotor ini?”
Tanya Dewi ke Alam dengan rasa penasaran.
“Ya… saya hanya ingin foto-foto doang.” Ucap Alam datar.
“Oh…kirain untuk apa.” Ucap Dewi.
“Terus yang bersihin pantai seluas ini hanya kamu dan dua temanmu ini?” Tanya Alam.
“Ya iyalah.. kalau enggak kita terus,siapa lagi?” Ucap Dewi disertai anggukan dari Citra dan
Malik.
“Oh.. kalau begitu semangat ya.” Ucap Alam menyemangati Dewi.
“Iya.” Ucap Dewi sedikit ketus.
Setelah percakapan tersebut, Dewi pun meneruskan pekerjaannya untuk
membersihkan sampah disetiap sudut pinggiran pantai bersama kedua temannya. Tiba-tiba saat
Dewi dan kedua teman nya sedang memunguti sampah, temannya yang bernama Malik melihat
truk yang melaju ke pinggiran pantai yang lain. Malik pun dengan segera melaporkannya pada
Dewi.
“Eh Dewi lihat tuh.. truk sampah nya balik lagi. Kalau begini terus sampai tua pun tak akan
bersih pantainya.” Ucap Malik dengan wajah kesal.
“Hmm… ada benarnya juga kata si Malik. Kalau truk sampah itu berdatangan terus setiap hari,
kapan bersihnya pantai ini. Memang kamu enggak ada cara lain Dewi?” Ucap Citra menimpali
ucapan Malik tadi.
“Cara apa lagi Citra.. .mau pakai cara demo? memangnya kita punya berapa personil masa kita
mau demo hanya tiga orang.” Ucap Dewi dengan sedikit kesal.
“Sudah.. lebih baik kita selesaikan ini dulu keburu sore.” Ucap Malik menenangkan Dewi.
Akhinya perjuangan mereka dari pagi sampai sore tidak sia-sia, mereka berhasil
membersihkan hampir semua sampah yang ada disekitar pantai tersebut. Keesokan harinya saat
masih waktu masih menunjukkan waktu pagi hari, Dewi pun sudah bersiap untuk
membersihkan kembali sampah yang masih tersisa di pantai. Sembari menikmati
perjalanannya. Dewi pun berharap semoga ada orang yang mau menolong mereka untuk
membesihkan sampah di pantai karena dari sekian banyak anak muda di kampungnya hanya
ada beberapa anak muda yang mau diajak untuk membersihkan sampah. Setelah Dewimenikmati perjalanannya, ia pun segera menemui Citra dan Malik dirumahnya dan mengajak
mereka untuk membersihkan sampah dipantai lagi. Namun saat diperjalanan, mereka bertiga
berpapasan dengan Alam pria yang pernah mereka jumpai.
“Hai Alam.. kamu mau enggak ikut ke pantai?” Ucap Dewi.
“Kalian mau membersihkan sampah lagi? kapan bersihnya kalau setiap hari truk sampah setor
sampah terus ke Pantai?” Ucap Alam.
“Memang ini yang bisa kita lakukan Lam, hanya ini yang bisa kita lakukan, memang kitab isa
berbuat apalagi lagi?” Ucap Dewi yang terlihat agak kesal.
“Kan bisa kita ancam perusahaan yang membuang sampah itu untuk tidak membuang sampah
disini lagi.” Ucap Alam.
“Memang siapa yang mau dan bisa menyampaikan ke Perusahaan itu?” Tanya Dewi sedikit
menantang.
“Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu.” Ucap Alam.
“Lah.. kamu enggak jadi ikut membersihkan sampah?” Tanya Citra.
“Aku ada urusan penting jadi aku enggak bisa ikut kalian, maaf ya.” Ucap Alam sambil
meninggalkan Dewi dan kedua temannya.
Akhirnya mereka datang ke pantai untuk membersihkan sampah yang setiap hari selalu
mereka lakukan. Tiada habisnya setiap hari mereka membersihkan sampah karena selain
sampah dari pengunjung, truk yang membawa sampah pun selalu berdatangan. Suatu ketika
saat Dewi sedang beristirahat dan makan beberapa camilan dengan kedua temannya, tiba-tiba
ia dihampiri oleh Alam yang terlihat terburu-buru mengajaknya untuk pergi ke suatu tempat.
“Ayo ikut aku.” Ucap Alam dengan terburu-buru.
“Kita mau kemana Lam?” Tanya Dewi sedikit heran.
“Kita akan ke perusahaan yang sudah membuang sampah di pantai.” Tegas Alam.
“Memangnya mau ngapain kita ke perusahaan itu?” Tanya Dewi.
“Jadi begini, tadi saat aku tidak bisa ikut dengan kalian membersihkan sampah dipantai
sebenarnya aku sedang mencari perusahaan yang membuang limbahnya di pantai ini dan
kemudian aku menemukan perusahaan itu dan aku mencari pimpinan mereka. Aku bertanya
kenapa perusahaan itu membuang limbah di pantai ini?” Ucap Alam.
“Terus apa jawaban dari mereka?” Tanya Dewi.
“Ya pimpinan mereka bilang tidak tahu dan kemudian dia meminta maaf atas kejadian ini.
Pimpinan perusahaan tersebut berjanji tidak akan membuang limbah mereka lagi ke pantai,
serta sebagai kompensasi mereka akan memberikan sejumlah dana dan beberapa petugaskaryawan mereka untuk ikut membersihkan pantai tersebut.” penjelasan Alam dengan
tersenyum.
“Alhamdulillah, akhirnya masih ada orang baik yang mau membantu kami.” Ucap Dewi dengan
raut wajah bahagia.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Alam, Dewi dan Alam pergi mendatangi
perusahaan tersebut. Mereka menemui pimpinan perusahaan itu untuk menerima sejumlah dana
dan menerima permintaan maaf dari pimpinan perusahaan yang selama ini telah membuang
sampah di pantai tersebut. Selain itu, mereka juga berdiskusi tentang kapan rencana
membersihkan pantai yang dibantu beberapa karyawan dari perusahaan tersebut sebagai salah
satu bentuk kompensasi dan permintaan maaf mereka. Setelah mereka selesai melakukan
pertemuan, merekapun kembali ke kampung dan memberitahukan kabar bahagia tersebut pada
kedua temannya. Mereka mengatakan bahwa besok akan dibantu dalam membersihkan pantai
dan tidak ada lagi truk yang akan membuang sampah di pantai itu lagi. Keesokan harinya,
mereka menjalankan rencana membersihkan Pantai Bersama, tiba-tiba Alam datang ke Pantai
Bersama 20 orang yang sudah siap untuk membersihkan pantai. Dewi pun menghampiri Alam
dan bertanya siapakah mereka itu, kemudian Alam pun menjawab bahwa mereka ini adalah
para aktivis lingkungan yang Alam ajak untuk membersihkan pantai karena sebenarnya ia juga
seorang aktivis yang bertugas untuk menjaga lingkungan agar tetep bersih. Sebenarnya saat ia
memotret Pantai, yang saat itu ia ditegur oleh Dewi ia sedang membuat laporan yang akan ia
gunakan sebagai bukti. Dibantu beberapa personil karyawan dari perusahaan yang membuang
limbahnya ke pantai tersebut, kali ini pekerjaan pembersihan sampah terasa lebih ringan karena
mendapat tambahan tenaga atau bantuan tambahan sehingga pekerjaan bisa lebih cepat
diselesaikan. Dana kompensasi yang mereka dapatkan dari perusahaan sebagai wujud
permintaan maaf digunakan untuk membeli makan dan minuman, kemudian diberikan kepada
semua yang ikut membantu membersihkan pantai.
Keadaan pantai setelah dibersihkan terasa jauh lebih nyaman, baik itu bagi para
pengunjung maupun bagi penduduk sekitar pesisir pantai. Papan larangan untuk tidak
membuang sampah sembarangan pun kini sudah terpasang dan para warga pun juga berinisiatif
untuk membangun beberapa gazebo yang dapat digunakan oleh para pengunjung yang ingin
beristirahat. Selain itu, mereka juga menyediakan tong sampah di beberapa titik agar para
pengunjung tetap menjaga kebersihan. Dewi pun merasa sangat senang karena akhirnya pantai
yang sangat ia dambakan akhirnya terwujud. Ia tidak lupa untuk berterima kasih pada Alam
yang telah membantu untuk mewujudkan pantai yang bersih, indah dan nyaman itu. Akhirnya
pantai yang semula sepi pengunjung itu tiba-tiba mulai di datangi banyak pengunjung dan parawarga pun berinisiatif untuk membuka berbagai warung makananan dan minuman. Keadaan
saat ini tentunya dapat berpengaruh terhadap berbagai pihak, salah satunya dapat membuka
lapangan kerja bagi warga sekitar dengan berjualan di sekitar pantai. Suatu hari saat Dewi
tengah berjalan-jalan, ia pun dihampiri oleh Alam karena saat itu Alam akan meneruskan
perjalanannya. Masalah jembatan yang menghalangi bis yang akan dinaiki Alam, kini sudah
selesai diperbaiki. Alam pun berpamitan kepada Dewi.
“Aku balik dulu ya Dewi.” Ucap Alam.
“Balik kemana Lam, bukannya kamu mau meneruskan perjalanan kok malah balik?” Tanya
Dewi.
“Maksud aku balik ke bis dulu baru berangkat.” Ucap Alam sedikit tertawa.
“Oh ya jangan lupa ya di jaga kondisi pantainya, awas aja nanti kalau aku tinggal pantainya
jadi kotor lagi.” Ucap Alam.
“Ya kali kamu tinggal jadi kotor, kan masih ada aku sang penjaga pantai haha…” Ucap Dewi
tertawa terbahak-bahak.
“Ya udah jaga terus pantainya, aku pamit dulu.” Ucap Alam.
“Iya… bakal aku jaga kok.” Ucap Dewi.
Akhirnya Alam pun pergi meninggalkan Dewi sambil berteriak untuk selalu jaga
lingkungannya. Tak lama setelah itu, tiba-tiba ingatan yang ada di kepala Dewi tentang pantai
nya yang dulu kini menjadi kenyataan. Ia pun menyadari bahwa suatu kebaikan belum tentu
semuanya berasal dari sekeliling kita, bisa juga kebaikan tersebut berasal dari hal yang tak
terduga dan secara tiba-tiba menghampiri kita.
BIODATA PENULIS
Nama : Muhamad Abhista Hanan Adhipratama
Tempat Tangal Lahir : Ponorogo, 18 Februari 2008
Alamat : PP Queen Al Falah Ploso Mojo Kediri
Asal Sekolah : SMA Queen Al Falah
Kebaikan Pengantar kebahagiaan Orang Lain

Di suatu siang yang terik, sang mentari menembus dengan tajamnya menyentuh kulit.
Tepat di tengah padatnya kota metropolitan terdapat sebuah keluarga kecil yang beranggotakan
ayah, ibu, dan satu anak tunggalnya bernama Mahesa. Keluaga tersebut terkenal dengan
kesederhanaan dan kebaikan yang dimiliki, meskipun keluarga kecil tersebut memiliki beberapa
tabungan berupa aset tanah. Mahesa selalu diajarkan tentang kebaikan oleh kedua orang tuanya .
Mahesa selalu diajarkan tentang menolong sesama makhluk hidup seperti membantu seseorang
yang sedang terkena kesulitan, membantu teman yang sedang sakit, memberi makan hewan yang
kelaparan dan lain sebagainya. Orang-orang sekitar pun tahu jika keluarga kecil ini memiliki
tingkat kebaikan yang luar biasa. Sampai kini dirinya beranjak dewasa, Mahesa selalu
melaksanakan tradisi keluarganya.
Pada suatu malam, Mahesa baru saja pulang dari rumahnya setelah mengerjakan tugas.
Di tengah perjalanan, ia melihat seorang nenek bersama cucunya yang sedang menangis di tepi
jalan. Ia merasa ibah melihatnya, sepertinya nenek itu butuh bantuan. Hinggah akhirnya ia pun
mendekati mereka.
“Nek.. nenek kenapa menangis?” Mahesa bersimpuh di depan nenek tersebut.
“Cucu saya sakit nak tubuhnya demam tinggi, saya ingin membelikan obat tapi preman-preman
itu merampas semua uang nenek.” Ucap nenek itu dengan menunjuk para preman yang sedang
kesenangan.
“Nenek sudah makan?” Nenek tersebut menggeleng pelan sembari mengusap air matanya.
Mahesa semakin prihatin melihatnya. Ia lalu mengajak nenek tersebut untuk makan di sebuah
kedai makan yang terlihat mewah. Selain itu, Mahesa juga membelikan obat untuk cucu nenek
tersebut.
“Nenek mau makan apa nek? Silahkan pilih apa saja yang nenek dan cucunya suka.” Ucap Mahera.
“Apa saja nak, yang penting kami bisa makan sudah alhamdulillah.” Ucap nenek dengan sedikit
gemetar tubuhnya.
“Baik nek, sebentar saya pesankan ya.” Jawab Mahesa.
Setelah mereka selesai makan, Mahesa pun mengantarkan nenek dan juga cucunya itu untuk
pulang ke rumah. Nenek tersebut menunjukkan arah kepada Mahesa dimana ia tinggal. Setelah
sampai sesuai dengan arahan nenek tersebut, ternyata nenek itu tinggal di sebuah gubuk ringkuhyang berada di bawah jembatan besar. Melihat keadaan rumah nenek itu yang tidak layak dihuni,
membuat hati Mahesa teriris tersayat-sayat.
“Nenek yakin mau tinggal di sini?” Tanya Mahesa kepada nenek.
“Bagaimana kalau tinggal bersama saya saja nek? Nenek tersebut menggelengkan kepalanya.
“Apakah nenek sudah lama tinggal disini? Sepertinya nenek tidak nyaman untuk tinggal di bawah
jembatan seperti ini nek.” Ucap Mahesa.
“Saya sudah terbiasa tingal disini. Mau bagaimana lagi karena saya tidak mempunyai rumah. Saya
pun tidak tau dimana anak-anakku sekarang ini tinggal.” Ucap nenek dengan meneteskan air mata.
“Saya sudah banyak kamu bantu Nak, kami sudah terbiasa tinggal di sini jadi pulanglah. Ucap
nenek.
“Baiklah kalau itu kemauan nenek, saya tidak bisa memaksa.” Ucap Mahesa pasrah, lalu ia
mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada nenek tersebut.
“Ini untuk nenek dan cucunya ya, hanya sedikit rezeki untuk beberapa hari kedepan. Nenek jangan
kerja dulu sampai cucunya sembuh ya.” Ucap Mahesa.
“Nak.. ini banyak sekali. Kebanyakan ini nak jika untuk saya semua.” Ucap nenek denan wajah
kagetnya.
“Mohon diterima ya Nek.. kalau begitu saya permisi dulu semoga cucunya lekas sembuh.” Mahesa
lalu kembali menuju rumahnya.
Roda hidup terus berputar, tak terasa kini Mahesa telah beranjak dewasa. Ia sekarang sudah
mulai bekerja di kedai milik ayahnya. Dia adalah anak satu satunya, tentunya ia yan akan
meneruskan usaha milik kedua orang tuanya. Mahesa selalu bersyukur dan tidak pernah mengeluh
atas rezeki yang didapat setiap harinya. Tentang kondisi kedai yang ramai pengunjung ataupun
tidak, iya tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut yang terpenting ia bisa memenuhi
kebutuhan keluarga kecilnya saja sudah cukup. Ayah an Ibunya pun tidak menuntut Mahesa untuk
menjadi apapun, yan terpenting Mahesa melakukan kebaikan dan senang menjalani hal yang
diinginkan pasti akan selalu memperoleh dukungan dan doa dari kedua orang tuanya.
Hingga suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang sedang berbicara dengan ibunya di
depan kedai makan Mahesa. Tidak sengaja, ia pun mendengarkan percakapan antara ibu dan anak
tersebut.
“Mama aku lapar sekali.” Keluh seorang anak laki-laki.
“Ayo kita makan ma, ayo..” Ucap anak laki-laki tersebut dengan menarik tangan ibunya.“Sabar ya Nak, Mama cari uang dulu nanti kalau sudah ada baru kita beli makan ya?” Jawab sang
Ibu dengan wajah sedih.
Mahesa yang sedang menyapu kedainya mendengar percakapan dua orang berbeda usia itu
menjadi memperhatikannya. Tak lama setelah mendengar percakapan tersebut, Mahesa pun
mempersilahkan mereka untuk masuk ke kedai makan miliknya.
“Bu.. silahkan masuk ke kedai saya.” Ucap Mahesa.
“Maaf mas, tidak usah.” Jawab seorang ibu.
“Ayo Bu tidak apa-apa, silahkan masuk.” Ucap Mahesa sembari mempersilahkan ibu dan anaknya
masuk.
“Tapi kami tidak punya uang mas.” Keluh seorang ibu.
“Tidak perlu membayarnya Bu, saya hanya membantu sebisa saya.” Ucap Mahesa.
“Beneran Mas? Apakah tidak rugi nantinya?” Tanya seorang Ibu.
Mahesa mengangguk, dan akhirnya mereka mau untuk masuk ke kedai makan milik
Mahesa. Ia pun melayani mereka dengan layaknya pengunjung yang lain. Tidak ada perilaku
Mahesa menbedakan antara pegunjung lain yang membayar dengan seorang ibu yan ditolongnya
itu. Melihat Mahesa melakukan perbuatan itu, orang tuanya pun merasa senang dan tersentuh.
Mereka merasa bangga dan bersyukur memiliki Putra satu-satunya seperti itu. Mahesa selalu
melakukan apa yang mereka ajarkan sejak kecil terhadapnya.
“Terima kasih banyak ya Mas.” Ucap Seorang Ibu denan wajah berseri-seri bahagia.
“Saya tidak bisa mengganti dengan apapun kebaikan yang telah Mas berikan, selain dengan doa
terbaik untuk Mas sekeluarga. Semoga kedai ini Selalu ramai pengunjung dan dilancarkan
rezekinya.” Ucap seorang Ibu.
“Aamiinn.. terima kasih atas doanya Bu.” Jawab Mahesa.
Sebenarnya, selain Mahesa senang menolong orang lain tanpa memandang siapapun yang
ditolong. Ia memiliki kegiatan bersedekah rutin, yaitu di pantai asuhan. Setiap bulan ia selalu
berkunjung ke panti asuhan untuk memberikan beberapa barang kebutuhan dan juga sejumlah
uang yang dapat digunakan anak-anak panti asuhan. Hal tersebut sangat membuat hati Mahesa
merasa senang ketika tiap bulan bisa kembali berkunjung untuk melihat anak-anak panti asuhan.
Karena Mahesa rutin ke panti tiap bulannya, anak-anak panti pun menjadi hafal dengan sosok
Mahesa ini. Anak-anak kecil sangat menyukai sosok Mahesa karena penyayang dan selalumembawakan hadiah untuk mereka. Hingga suatu ketika, Mahesa pun kembali mengunjungi panti
asuhan dan bertemu pengurus panti.
“Assalamualaikum.. selamat pagi Bu.” Ucap Mahesa.
“Waalaikumsalam, wah.. Mas Mahesa silahkan masuk mas.” Jawab pengurus panti.
“Iya Bu.” Ucap Mahesa.
“Bagaimana kabarnya Mas Mahesa sekeluarga?” Tanya pengurus panti dengan senyuman.
“Alhamdulillah baik Bu, Ayah Ibu saya juga sehat.” Jawab Mahesa.
“Bagaimana dengan Ibu dan anak-anak panti Bu? Apakah ada permasalahan bulan ini?” Tanya
Mahesa balik.
“Alhamdulillah saya baik, anak-anak juga baik. Namun, ada satu orang anak sedang sakit Mas.”
Jawab pengurus panti.
“Siapa Bu? Apakah sudah diperiksakan?” Tanya Mahesa dengan khawatir.
“Arkha Mas, dia sudah 3 hati panasnya tidak turun. Belum diperiksakan hanya minum obat dari
apotik saja kemarin.” Jawab pengurus panti.
“Loh kenapa tidak segera diperiksakan sudah 3 hari tetap demam. Tolong antarkan saya ke
kamarnya Arkha ya Bu, saya ingin melihat kondisinya sekarang.” Ucap Mahesa.
Kemudian, Mahesa pun menuju ke kamar Arkha diantar oleh pengurus pondok. Setelah ia
sampai di kamar Arkha, benar saja bahwa Arkha demamnya semakin tinggi. Tidak banyak waktu
untuk berpikir, Mahesa pun segera meminta izin pengurus panti untuk membawa Arkha ke rumah
sakit agar bisa segera diperiksa kondisinya. Arkha adalah salah satu anak panti yang berumur 4
tahun yang dekat sekali dengan Mahesa. Ia bahkan menganggap Arkha seperti adek kandungnya
sendiri. Tak heran jika Mahesa sangat khawatir terhadap keadaan Arkha yang lemas dan demam
tinggi. Setelah mendapatkan izin, Mahesa dan salah satu pengurus panti bergegas untuk berangkat
ke rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit dan diperiksa oleh dokter, ternyata Arkha terkena DB
(Demam Berdarah) dan harus dirawat inap. Mahesa pun bergegas mengurus biaya administrasinya,
agar Arkha segera mendapatkan kamar inap. Selang beberapa waktu, Arkha sudah mendapatkan
kamar dan segera ditangani lebih lanjut dengan dokter. Waktu menunjukkan pukul 7 malam,
namung keadaan Arkha semakin buruk hingga akhirnya Arkha pun pergi untuk selamanya.
Ternyata penanganan Arkha untuk periksa sedikit terlambat, sehinga Arkha tidak bisaterselamatkan. Tangis Mahesa dan pengurus panti pun pecah seketika mendengar ucapan dokter
tentang kondisi Arkha sekarang ini.
“Kenapa malah lebih memburuk hingga tidak bisa terselamatkan dok? Bukankah tadi sudah
diberikan obat dan infus?” Tanya pengurus pondok dengan tangis sesegukan.
“Sekali lagi mohon maaf Bu, saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Karena penanganan
Arkha tidak segera diperiksakan jadi kemungkinan penyakitnya sudah menjalar dan kekebalan
tubuhnya menurun drastis.” Jawab dokter.
“Terima kasih dok sudah berusaha semaksimal mungkin, mohon untuk dibantu pengurusan
jenazahnya agar bisa segera dibawa ke panti.” Ucap Mahesa dengan tangisan pasrah.
“Ibu tidak perlu khawatir dengan biayanya selama dirumah sakit ini, nanti saya yang akan
mengurus semuanya hingga pemakaman Arkha. Kita doakan saja Bu, semoga Arkha bertemu
denan kedua orang tuanya di surga. Saya sendiri sangat menyayangi Arkha layaknya adik kandung
saya sendiri. Tapi Tuhan berkata lain dan lebih menyayangi Arkha.” Ucap Mahesa.
“Baik Mas Mahesa.. terima kasih atas bantuannya selama ini. Mas sudah banyak membantu terkait
hal apapun di panti kami. Semoga kebaikan Mas mendapatkan balasan yang lebih banyak.” Jawab
pengurus panti.
“Mari Bu kita urus perpulangan Arkha dan kita adakan doa bersama di pantu bersama anak-anak
nantinya.” Ucap Mahesa.
(Kebaikan sekecil apapun yang telah kita berikan terhadap orang lain akan membuat orang lain
bahagia dan kebaikanmu akan terus diingat)
BIODATA PENULIS
Nama : Tasya Meirina
Alamat : PP Queen Al Falah Ploso Mojo Kediri
Asal Sekolah : SMA Queen Al Falah










