KTI LAWATAN SEJARAH 2022: Babat Alas Kraton di Mojo

Ahsani Takwin

Menurut kepercayaan masyarakat Desa Kraton, babat awal Desa Kraton ini adalah seorang yang luar biasa yaitu KH. Hasan Anom Besari yang dikenal dengan mbah Yai Ichsan. Beliau adalah seorang keturunan dari KH. Hasan Besari yang merupakan sosok mahaguru para maharaja dari Ponorogo.

Awalnya KH. Hasan Anom Besari yang berguru di Blitar mendapat titah untuk bertapa. Kemudian berlayar menyusuri Sungai Brantas menggunakan alat transportasi berupa gethek (perahu yang terbuat dari bambu). Saat menysuri Sungai Brantas, KH. Hasan Anom Besari dilarang mengayun/menjalankan sendiri gethek tersebut. Apabila gethek tersebut berhenti, kemudian KH. Hasan Anom Besari harus turun dan berjalan ke arah barat kemudian menempati daerah tersebut.

Ternyata, gethek tersebut berhenti di daerah Kediri. Akhirnya KH. Hasan Anom Besari menemukan sebuah alas (hutan). Hutan tersebut adalah merupakan sebuah kerajaan dari para bangsa lelembut yang dikenal dengan nama kraton dhedhemit. Konon katanya, hutan belantara itu dikenal dengan istilah “jalmo moro jalmo mati” yang artinya siapa yang masuk hutan tersebut akan pulang hanya namanya saja.  Karena KH. Hasan Anom Besari akan menempati tempat tersebut, maka hutan tersebut dibabatlah dengan menggunakan kekuatan supranaturalnya sehingga lelembut/dhedhemit yang ada di alas tersebut juga ikut terbabat sudah.

Bapak Mujib selaku sekertaris Desa, mengatakan bahwa “Konon setelah berhasil membabat alas dan mengalahkan para lelembut/dhedhemit yang ada di alas tersebut, kemudian sebagian dari alas tersebut dijadikan rumah oleh KH. Hasan Anom Besari dengan Nyai Fatimah (istri dari KH. Hasan Anom Besari).”. KH. Hasan Anom Besari juga membangun masjid yang dinamai Masjid Al Hasan dan pondok pesantren salafiah. “Konon jika ada yang tertidur di dalam masjid tersebut maka akan ada yang memindahkan orang tersebut ke tempat lain seperti kuburan atau di bawah pohon sawo.”, tutur Bapak Miftah selaku warga desa.

Masijd Al Hasan masih mempunyai masjid induk yang sampai sekarang masih bagus dan sudah direnovasi oleh masyarakat setempat. Dalam masjid tersebut juga ada peninggalan KH. Hasan Anom Besari berupa bedhug dan kentongan jaman dahulu. Mimbar yang biasa digunakan untuk khotbah hari Jumat adalah mimbar dengan hiasan ukiran kayu yang sangat indah. “Konon mimbar kayu yang ada dalam masjid Al Hasan dulu dibuat hanya dalam waktu satu sehari langsung jadi.”, tutur Bapak Miftah. Pak Mujib selaku Sekretaris Desa juga bercerita konon dulu pernah memiliki kesenian berupa jaranan di desa kraton. Tetapi Pak Mujib mengatakan “Pada zaman dahulu setiap jaranan melewati depan masjid Al Hasan semua alat musik tidak bisa berbunyi, namun seiringnya waktu tradisi itu hilang/punah.”

 Cerita berbeda muncul dari masyarakat lain setempat. Menurut mereka, kraton dhedhemit tersebut ada di sebuah DAM/ bendungan di kali/ Sungai Bruni dan dikenal dengan nama Kedhung Makloem. Sungai Bruni ini adalah sungai yang membelah desa dari barat sampai timur Desa Kraton. “Konon kata warga sekitar di daerah sungai Bruni apabila ada salah seorang pendatang/orang asing yang mandi di sugai tersebut akan hilang.”


[integrate_google_drive id=”5″]

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button